PROSPEK LUAR BIASA…!!!

SOLUSI 3 masalah utama kehidupan: 

  1. Leadership dan kualitas hidup ANDA dengan fasilitas kemudahan bertransaksi lewat internet (e-mail).

Bersama, mari kita wujudkan hidup SEHAT di dunia yang semakin TIDAK SEHAT dengan mengonsumsi bersama PRODUK PT MELIA SEHAT SEJAHTERA. Cara bergabung di PT MSS sangat mudah, jelas, dan TIDAK ADA YANG RUGI.

Jangan Lewatkan:

  1. Bagaimana Propolis Menghentikan Kanker?
  2. Mengatasi GANRENE DIABETES

Read the rest of this entry »

FacebookShare

Oleh Ki Denggleng Pagelaran, 29 April 2003

Pertanyaan, pasendhon dari Suga Derida

Salam, 1. Ki Hadjar Dewantara : suwung-awang-uwung.Segala sesuatu bermula  dari “tiada” dan “ketiadaan”. 2. Teori evolusi itu kan sekadar konsep yang  digagas oleh manusia yang terikat waktu dan kenisbian. Lha…manusia yang  serba terbatas melihat “ketakberhinggan” semesta…..gagu ta. 3. Evolusi itu  “ada”, Revolusi juga ‘ada”, Kun fayakun juga “ada”. terimakasih.

—————-

KDP:

Terimakasih kembali.

khdKi Hadjar Dewantara, barangkali mewakili pemahaman Jawa  dalam hal asal-usul manusia atau asal-usul alam semesta. Memang pada mulanya sebutan untuk Hyang Maha Pencipta bagi faham Jawa adalah Hyang Taya (dalam bahasa Jawa  sekarang dipanjangkan menjadi Hyang Tan Kinayangapa, Hyang Tidak Dapat Diperapakan). Faham selanjutnya menyatakan bahwa Hyang Taya melakukan Titah, yang bermakna kalimat, kata-kata, ujaran atau kalam atau qalam azali.

Dari Titah itulah ada yang Tumitah (dikatakan, diujarkan, di-kalam-kan, mengandung qalam), oleh karena itu, ‘kun fayaa kun’ sebagai asal-usul kejadian, tidak bertentangan dengan faham titah Hyang Taya itu. Jadi segala yang ada dan dianggap ada, bagi faham Jawa dengan Hyang Taya-nya adalah TITAH itu sendiri, dan adanya karena dititahkan atau TUMITAH. (sayang kini seselan ‘um’ ini nyaris hilang baik dalam bahasa Jawa maupun Indonesia, meskipun agak berbeda, namun keberadaannya sebetulnya mampu mencakup pengertian yang sesuai dengan budaya pemakai bahasa).

Terjadi pergeseran makna ketika segala titah ini dipersamakan dengan the creatures, ciptaan. Sebab, dalam khasanah Jawa, cipta itu adanya karena rasa. Rasa dibangun oleh karsa. Kedudukannya memang paling tinggi dalam khasanah kemanusiaan Cipta – Rasa – Karsa. Namun cipta ada adalah karena setelah manusia ada lengkap dengan daya persepsi dan apresiasi kejiwaan ketika mencitra keberadaannya di antara segala ciptaan terhadap yang mengadakannya. Tetapi apa boleh buat, bahasa memang tidak lagi menjadi kekuatan penyampaian idea mutlak bagi sesuatu bangsa sekarang ini. Apalagi pada jaman yang sudah demikian canggih teknologi dan sarana berkomunikasinya.

Yang jelas bahwa Hyang Taya itu sudah hampir tidak dipahami lagi oleh generasi Nusantara sekarang. Tidak hanya itu bahkan Hyang Manon (dari asal kata ‘ton’ yang bermakna lihat) yang arti esensialnya adalah Hyang Melihat (dengan sendirinya), pun tidak dipahami lagi. Melihat yang merupakan sifat azali dan menjadi Maha Melihat, dahulunya mampu menjadi pembatas aktivitas ‘pengaku’-nya. Betapapun ‘titah’ selalu dalam Penglihatan Hyang Manon. Dari itu lebih maju lagi menjadi sesebutan Hyang Widhi. Adalah, Dia yang Maha Memberi Ijin, dan ijin itu adalah perkenan atau kemauanNya.

Nah demikianlah kira-kira pendugaan saya tentang Ki Hadjar Dewantara (Soewardi Soerjaningrat), dalam memikirkan keberadaannya. Dan olehnya itu, kun-faya-kun, tetaplah berlaku sepanjang memahami bahwa segala sesuatu ‘titah’ itu mengada karena dititahkan ada dari tiada. Tetapi proses selanjutnya, barang kali terletak pada penggal ungkapan ‘faya’ yang rupanya dapat dimaknai sebagai suatu proses yang bila dihitung dengan ‘waktu’ (ini juga suatu titah) yang berlaku pada manusia dan sekaligus menjadi ‘pembatas’ semena-mena keberadaan manusia secara individu, menjadi sangat panjang.

Nah, dalam perjalanan ‘titah’ yang bernama waktu (Hyang Kala, yang bukan berarti bahwa Kala itu Taya, melainkan dengan Kala, Hyang Taya mengelola jagad seisinya), manusia secara individu maupun agregat ‘MANUSIA’ berada di dalamnya. Secara individu, kehidupan manusia hanyalah sepersekian saat saja dari waktu-Nya Hyang Taya yang dianugerahkan kepada keberadaan jagad, juga MANUSIA sebagai nama titah yang memiliki keistimewaan mampu mengingat, belajar, berpikir dan lebih penting lagi mampu mengekspresikan ulang baik dengan perbuatan maupun bahasa atas hasil-hasil perkembangan dan pengalamannya itu, dipercaya baru muncul di muka bumi sekitar 150.000 tahun yang lalu (kalau tak salah).

Masa lampau tetap sebagai misteri, karena manusia tidak akan mampu mengarungi balik perjalanan Kala hanya atau baru terjadi dalam cerita-cerita fiksi-ilmiah yang kadang-kadang difilemkan, sekedar menjadi hiburan. Tetapi haruskah manusia berhenti memikirkan masa lalu, masa kemunculan nenek moyangnya? Rasa-rasanya kok tidak, kecuali manusia dan MANUSIA ingin berhenti keberadaannya saat ini juga.

Terimakasih lagi.

Ketawang Ibu Prtiwi (Karya Ki Nartosabdho):

Ibu Prtiwi paring boga lan sandhang kang murakabi,
paring rejeki manungsa kang bekti,
Sih sutresna mring sesami,
Ibu Prtiwi kang adhil luhuring budi.
Ayo sungkem mring Ibu Prtiwi

FacebookShare

Dulu di akhir Januari 2004, kabarnya yahoo sedang berperang  dengan virus. Kebetulan pula posting dari milist-milist berbahasa Jawa sepi. Sepinya mungkin karena para pelanggan mblenger dengan posting  tentang ?Gusti Allah?. Berhubung sepi, saya berkeliaran ke beberapa situs penyedia file-file  sejarah gratisan. Eee, tahu-tahu nyasar ke situs yang memajang Ancient Japan

keramik orang jomon akhir

Lumayan, karena ada file yang membahas tentang KAMI pada folder glossary of ancient Japan. Bersamaan waktu dengan datangnya e-mail dari New York anggota milist jawa@yahoogroups.com, dari Pakde Harjono (Alm.). Pada e-mail itu ditulis bahwa pengertian Gusti AlLah itu
memiliki sangat banyak sebutan tergantung dari yang  mempercayainya, tergantun dari budaya setempat, kalau menurut pendapat saya. Salah satu budaya dunia dengan konsep ketuhanan tertentu adalah Jepang. Gusti Allah, demikian orang Jawa menyebut, Allah atau Alloh, demikian orang Kristen atau Islam menyebut, Yahwe, Elohim atau Elly dalam bahasa Hibrani, dalam bahasa Jepang disebut KAMI.

Menurut sejarahnya, orang Jepang sekarang ini bukanlah bangsa asli kepulauan Jepang, melainkan pendatang dari semenanjung Korea. Bangsa Korea menyeberang ke laut karena terdesak oleh bangsa lain dari Utara. Bangsa Utara mengalir ke selatan karena wilayahnya yang semula subur sebagai padang penggembalaan sedikit-demi sedikit menjadi gurun pasir akibat bersatunya benua India ke benua Eurasia sehingga menghasilkan pegunungan Himalaya yang menghalangi pengaruh laut ke daratan Cina Utara. Itu akibat terjadinya dan pecahnya kembali super benua ketiga di bumi yang disebut Pangaea. Pengaruh pengeringan dan gurunisasi itu berlangsung terus hingga 30.000 tahun sebelum Masehi, membuat bangsa utara mengalir ke selatan.

Sebagai orang asli Korea, bangsa Jepang mendarat di kepulauan itu dengan mambawa cikal-bakal kepercayaan atau agamanya. Orang Korea dikenal memiliki banyak dewa, bahkan macam-macam dewa itu sangat tergantung klan atau suku. Kekuatan di luar manusia yang dianggap paling mempengaruhi eksistensi klan atau ketua klan, diangkat menjadi dewa yang disucikan.  Sebutannya untuk bahasa orang Jepang adalah KAMI itu. Klan-klan dalam bahasa Jepang disebut Uji. Ada banyak Uji yang sampai kini terwariskan menjadi nama-nama keluarga, seperti Tanimoto, Yamamoto, Fukuoka, Fujiwara, Tokugawa dan lain sebagainya. Setiap uji punya kami sendiri, jadi jumlah dan macam kami sangat
banyak. Yang dianggap sebagai kami bisa arwah leluhur, hutan, air, sungai, laut, bulan, matahari, bintang dan lain sebagainya sesuai dengan anggapan ketua uji tentang sesuatu yang mempengaruhi eksistensi uji-nya.

Antar uji sering terjadi konflik dan bentrokan. Uji yang menang dan menaklukkan suatu uji, maka KAMI uji yang kalah tidak dibuang, tetapi dijadikan taklukan KAMI pemenang. Akhirnya Kami-kami itu bertingkat-tingkat. Klan yang paling banyak punya taklukan, Kami-nya paling tinggi kedudukannya. Kami juga semakin banyak. Hingga pada akhirnya JIMMU bertahta sebagai Kaisar, terus mengangkat dirinya sebagai keturunan dewi matahari AMATERASU. Amaterasu dianggap diciptakan oleh KAMI yang paling berkuasa dengan misi  membawa kehidupan dan kesejahteraan di kepulauan Jepang. Untuk memenuhi misi itu Amaterasu menurunkan seorang Kaisar lewat banyak tingkatan dari keturunan-keturunan langitnya, sampai terlahir seorang Kaisar yang disebut TENNOU (orang dari langit). Selanjutnya ditambah lagi menjadi Tennou Heika, manusia langit raja perdamaian, pembawa misi Amaterasu sebagai visi KAMI SAMA, Kami yang menguasai universe.

Yang jelas dalam sejarah geografi-kuno (Archaeogeography), sejak menjelang terbentuknya super benua ke-tiga di bumi Pangaea wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara tidak pernah jauh-jauh dari khatulistiwa, termasuk Nusantara, Mindanao, Taiwan, hingga Jepang. Selalu dekat-dekat dengan daratan Cina Selatan. Tetapi Nusantaranya masih minus Maluku dan Papua yang masih setia bersatu dengan Pangaea bagian
Australia dan Antartika.

Menurut catatan sejarah Jepang, sejak 30.000 tahun yang lalu, berarti akhir masa pembentukan Gurun Ghobi, kepulauan Jepang sudah berpenghuni bernama manusia Jomon. Orang Jomon membuat tembikar/gerabah yang oleh sementara ahli banyak dibuat di kantung-
kantung kebudayaan setelah budaya PERTANIAN. Dalam hal bangsa Jomon ini malah terbalik, ada budaya pra-pertanian yang sudah pinter membuat gerabah.

Dari itu saya melihat-lihat file gratisan yang membahas sejarah manusia. Tiba-tiba aku temukan catatan bahwa fosil tengkorak kurang lengkap yang diketemukan di Wajak (umur sedimen pembawanya masih tergolong baru, 50.000 tahun yang lalu, tetapi umur sebenarnya dari fosil masih teka-teki karena kalau memakai umur sedimen, akan bermasalah dengan kesepakatan evolusi manusia) adalah termasuk species
manusia modern Homo sapien atau manusia bijaksana, spesies kita sekarang ini. Buktinya pada fosil Homo wajakinsis itu sudah tidak didapati ciri-ciri manusia primitif. Bahkan ciri Homo erectus seperti pada fosil  Sangiran dan Trinil pun tidak ada.

Timbul pertanyaan besar bagi saya, apakah mungkin pada jaman 30.000 tahun yang lalu itu kepulauan Nusantara dan Asia Timur yang tidak pernah jauh dari Khatulistiwa itu sudah berpenghuni…. Setidaknya ini bisa dibuktikan dari bahasa Jepang sekarang. Bahasa Jepang tergolong unik, karena lafalnya sangat mirip dengan bahasa Austronesia, termasuk Jawa, tetapi tatabahasanya masih sama dengan Korea yang
kemiripannya sampai ke bahasa Norwegia ketika bangsa-bangsa itu menyebar kemana-mana akibat penggurunan daratan Ghobi.

Ah jangan-jangan manusia Nusantara, terutama Jawa yang silaby kata-kata aslinya selalu ganda dengan konsonan dan vokal (tidak ada vokal-konsonan atau dobel konsonan atau dobel vokal) sudah eksis bersamaan dengan orang-orang Jomon yang baru abad 4 SM mulai terdesak oleh emigran dadi Korea itu. Sebab kelihatan bahwa bahasa Jepang sekarang ini campuran antara Korea dan Jomon.

Ah, sayang belum banyak sejarawan Indonesia yang menyisir wilayah ini. Wilayah kebudayaan kuno sejak jaman Homo erectus, 50.000 tahun yang lalu. Siapa tahu, Homo sapien itu justru lahir di Nusantara, meskipun begitu tidak merusak teori Out of Africa

Ishigaki Jima, Okinawa – Jepang 1 Februari 2014

=================
Ki Denggleng Pagelaran
=================

 

FacebookShare

perahu-bercadik-borobudurMaka sangatlah vital dan mendesak, bila kita ingin mengidentifikasi realitas diri kita, hidup kita, di masa kini (juga dulu dan nanti), mesti lebih dulu “membersihkan” bekas-bekas yang keras dan dalam dari pendekatandarat kita. Tentu saja hal ini sangatlah sulit, mengingat kultur kerajaan konsentris kini begitu meresap dan (dianggap) menjadi jati diri kita sebenarnya, termasuk dalam permainan politik mutakhir atau gerak ekonomi kita saat ini.

Namun hal itu mungkin bisa dimulai dari usaha mengidentifikasi pola rasial – seperti tersebut di halaman awal – juga pola relasi kultural yang terbangun sejak bercampurnya bangsa dan budaya Mongoloid-Austronesia dengan Australo-Melanesia. Dilihat dari akarnya, bangsa Indonesia adalah manusia yang berkulit gelap, sebagaimana kita temukan di pribumi Australia hingga Nugini dan kepulauan Fiji. Bercampur dengan pendatang dari Formosa yang melintas Selat Luzon, melahirkan suku-suku bangsa yang berkulit terang (Manado dan Maluku Utara) berhimpitan dekat bangsa berkulit gelap di Maluku Selatan dan Papua.

Pencampuran itu mengental bila kita bergerak ke Selatan. Dengan sisa-sisa Melanesia pada kulit agak gelap dan rambut keritingnya pada suku-suku bangsa di Timur Nusatenggara (bisa jadi Gajahmada berasal dari wilayah ini dilihat dari profil patungnya), hingga sampai pada Bali, Jawa dan Sumatera yang mulai coklat terang (sawo matang), yang boleh jadi juga karena percampuran secara genetik dengan albino Arya-Dravida. Maka lihatlah sebagian orang Jawa (orang kraton khususnya) yang relatif berkulit gelap, rambut lurus, dan hidung agak membengkok.

Tapi dari “hidung yang agak bengkok” inilah pergaulan atau interrelasi budaya nusantara yang sebelumnya terjadi secara dinamis, egaliter, terbuka, dan cair (sebagaimana karakter bangsa pesisir/pelaut) berubah menjadi statis, tertutup, feodal, dan kaku, sebagaimana tradisi kerajaan konsentris, seperti Demak dan Mataram. Usaha untuk melawan kecenderungan kultural itu, yang dilakukan oleh Mpu Sindok, dengan memindahkan pusat kerajaan ke kota pesisir Surabaya, dan mengangkat Gajah Mada, yang bisa jadi pelaut sejati asal Flores, cukup sukses pada awalnya, tetapi tenggelam juga akhirnya dengan datangnya agama daratan, Islam.

Agama baru ini datang dibawa oleh para mubalig-pengembara berasal dari kultur daratan (India, Arab dan Cina), lebih bisa berkompromi dengan tradisi Hindu/Buddha yang juga merupakan agama-darat. Bukan dengan agama para pelaut yang dewa-dewa dan tuhannya ada di lautan. Maka pergaulan budaya pun kembali memadat dan ketat, dalam regulasi semacam syariah, adat, dan sebagainya.

Kepadatan, keketatan, ketertutupan, ekskluisivitas-feodal, dan sebagainya inilah yang mesti kita coba lucuti untuk mengetahui dan memahami bagaimana budaya bangsa kita sebenarnya berakar dari dunia maritim. Dunia yang telah membawa kita ke ujung dunia terjauh, bahkan mungkin mencapai Amerika, sebelum Hsun-Fu diutus Shi-Huang-Ti menjelajah ke sana, apalagi Columbus yang seperti anak kemarin sore.

Sebagai gugusan puluhan ribu pulau, ratusan sub-etnik dan bahasa, kita adalah bangsa yang menggunakan laut untuk berkumunikasi, berdagang, berakulturasi, berproduksi dan berkreasi. Semua terjadi dalam kesetaraan, keterbukaan, dan kesediaan menerima yang asing (the others) secara ikhlas. Suatu mekanisme budaya yang membuat suku-suku bangsa di kepulauan ini terus berkembang, memperkaya diri, tanpa ada dominasi (apalagi nafsu kolonisasi), dan pada akhirnya mempertahankan diri mereka sebagai sebuah kesatuan, bhineka tunggal ika, hingga detik ini.

Pertanyaannya: dapatkah, lebih tepat mungkinkah, kita membalik kembali jalan sejarah kita? Dengan apa? Atau mungkin lebih pragmatis, perlukah? Di dalam peradaban mutakhir yang dikuasai oleh kultur kontinental (Eropa dan Cina, misalnya), adakah budaya bahari masih memiliki ruang untuk hidup? Apalagi dengan kecenderungan mutakhir, ketika laut dikuantifikasi menjadi jarak (bukan sebagai sesuatu yang hidup) yang kemudian ditaklukkan oleh teknologi (transportasi dan komunikasi, misalnya), adakah kebaharian masih perlu dipertahankan?

Lebih jauh lagi, beberapa bangsa sudah melihat darat dan laut bukan lagi masa depan bangsa, karena keduanya kini hanya menjadi restan atau limbah dari kerakusan teknologi. Kini mereka  berpaling ke wilayah lain: udara. Daerah sans frontiere kata Gene Roddenberry dalam Star Trek. Aerah tak bertuan dan belum ada peradaban apa pun yang membentuknya. Ke sanakah orientasi diri kita kini harus menuju?

Sekalian pemikir di negeri ini harus menjawabnya.

Jakarta, 25 Oktober 2009

Ide untuk Pengantar Diskusi “Budaya Bangsa Bahari”, Hotel Sultan Jakarta, 26 Oktober 2009.

FacebookShare

608px-Musician_Borobudur

Saya kira di sinilah kunci persoalannya. Kekalahan bangsa pesisir Dravida-Indonesia membawa akibat sangat jauh: menciptakan kekalahan bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan, dalam seluruh dimensinya. Ini memang masih bersifat hipotetik, datangnya kolonialis awal dari daerah Dravida, India Selatan, ke Indonesia membawa dampak kultural yang sangat dalam dan terasa bahkan menjadi given hingga di masa sekarang.

Dampak itulah yang dianalisis dengan cermat oleh Denys Lombard, sebagai lahir dan berkembangnya kultur daratan dari kerajaan-kerajaan konsentris di sekitar pusat atau pedalaman Jawa bagian tengah, tempat-tempat yang hinga saat ini dikenal penduduk setempat sebagai paku bumi, pusat dunia, di gunung Lawu dan sekitarnya. Kultur daratan ini tidak lain adalah transplantasi dari kultur stepa bangsa Arya, yang tidak mengenal laut sama sekali. Sebuah kultur yang dengan kekuatan peradaban kuno, penjelasan daratannya yang panjang dan diaspora yang hebat di kala itu, mampu melakukan tekanan keras pada bangsa-bangsa pelaut serta pesisir, Sehingga bangsa-bangsa terakhir itu takluk dan membiarkan dirinya tenggelam dalam cara berpikir, carang hidup, relasi sosial, spiritualitas hingga ekspresi artistik yang berpola pedalaman (daratan/konsentris).

 

Dapatkan 7 botol @ 6 ml Melia Propolis hanya dengan Rp 635,000. Anda akan langsung menjadi member MLM PT Melia Sehat Sejahtera dengan peluang penghasilan hingga Rp 850,000 sehari…!!! Unduh formulir pemesanannya diSINI, lalu kirimkan e-mail order ANDA kedenggleng@yahoo.com, segera !

FacebookShare

(Hanuman: tokoh idola atau penghianat?)

Catatan KDP: Saya sangat tercenung dan terkejut membaca bagian artikel Mas Radar Panca Dahana tentang “Tipuan Ajisaka” ini. Keterkejutan saya terletak pada figur tokoh epos Ramayana: HANUMAN. Ya, dalam pewayangan Ramayana versi Jawa, Hanuman (Anoman) sudah menjadi idola. Bahkan dimitologikan sebagai “Anak derivatif Hyang Bayu, dengan ciri berkain POLENG dan menggenggam kuku PANCANAKA, ketajaman yang LIMA. Tapi apakah benar dugaan Mas Radar, bahwa sebagai raja monyet yang maha sakti, Hanuman ternyata hanyalah sebagai tokoh penghianat bangsa Monyet yang membantu raja Arya Ramawijaya menaklukkan Rahwana (raja Sri Alengka)? Apakah benar rombongan monyet Gua Kiskendha itu sebenarnya satu rumpun bangsa dengan bangsa raksasa Alengka, sebagai lambang bangsa Dravida-Indonesia yang akan ditaklukkan oleh bangsa Arya? Silakan direnungkan….

Yang jelas perahu atau kapal bercadik yang tergambar di relief dinding Borobudur menyiratkan bahwa itu adalah kapal bangsa Indonesia terutama di pesisir selatan Jawa dan juga ciri khas kapal bangsa laut seperti suku Bajo. Karena ciri bercadik itulah yang memungkinkan kapal-kapal Nusantara mampu mengarungi samudera Pasifik (menuju kepulauan Fiji dan Selandia baru) dan samudera Hindia menuju Madagaskar dan bahkan mencapai pantai Afika Barat dengan membawa perbekalan yang hingga sekarang dapat dilacak buktinya berupa: AYAM, PISANG RAJA dan PISANG TANDUK, dan juga tanaman TALAS-TALASAN.

TIPUAN AJISAKA

perahu-bercadik-borobudurMaka, dari fakta yang diringkas sebelumnya (Indonesia Maritim #1 – #3), bisa kita mendapat pemahaman bagaimana kebudayaan Indonesia sebenarnya telah dibangun dengan cara yang sangat mengagumkan, dari kehidupan dan pengetahuannya tentang kelautan. Bukan daratan. Dan itu tidak hanya membuktikan betapa sebenarnya jati diri dan identitas muasal kita adalah pelaut sejati, bangsa laut yang besar dan disegani di masa purba (pra-sejarah), yang berinteraksi secara intens dengan peradaban-peradaban besar dan purba di Mesopotamia, Babylonia, Indus hingga Cina, tetapi juga serentak itu ia membantah keterangan sejarah yang kini taken for granted bagi kita, bahkan menjadi mitos.

Keterangan di atas membalik uraian sejarah formal bahwa Indonesia dibentuk oleh pendatang-pendatang dari sungai Mekong pada 3000 SM, atau kemudian diadabkan oleh bangsa India, disusul Arab, Cina, dan Eropa. Kenyataannya kita adalah bangsa yang sudah berdagang jauh sebelum Yesus atau Nabi Muhammad lahir. Tidak mengherankan, bila banyak bukti baru mengatakan Islam datang ke Indonesia bukan lagi pada awal abad 11 lewat para mubalig Cina dan Gujarat, tetapi sejak masa Nabi masih hidup. Bisa jadi begitu pula dengan agama Kristen, Buddha bahkan Hindu. [Atau mungkin justru substansi agama-agama itu diajarkan dan disebarkan oleh pelaut-pelaut Nusantara, jauh sebelum ditulisnya kitab-kitab dari bangsa Ibrani? Lewat guru-guru spiritual Nusantara yang kemudian nama-namanya diabadikan dan disucikan sebagai nama-nama dewa dan malaikat? - KDP]

Figur Timur Tengah atau Afrika?Kita tahu kini, sejak bangsa Arya mulai menempati lereng Himalaya dan sungai Gangga pada 1500 SM, mereka membutuhkan waktu 1,000 tahun lagi (500 SM) untuk sampai wilayah Selatan India, di mana ternyata sudah merupakan perkampungan orang Indonesia yang semarak di sana. Di masa itulah dipercaya, kitab-kitab utama Buddha lahir, kitab Vedha menyebar, dan peradaban Yunani melahirkan filosof-filosof yang tajam pikirannya.

Maka adalah hal yang sangat masuk akal, bahwa orang Indonesia (Austronesia) yang bercampur dengan Dravida sebenarnya adalah lawan dari penjajah Arya yang tengah mencoba melebarkan koloninya hingga Srilangka. Di sinilah, saya kira, mitologi Arya, Ramayana mendapatkan konteks historisnya. Rama sebagai raja Arya memerangi Rahwana, raja maha sakti Dravida. Dengan kelicinannya Rama menggunakan ‘rakyat setempat yang takluk’ sebagai “pasukan para” di garda depan. Rakyat yang berkulit gelap yang dipersonafikasi melalui monyet-monyet dan raja-raja monyet yang ditaklukkannya.

Babak Ramayana yang mengisahkan bagaimana Rama membangun jembatan monyet untuk menyerbu Rahwana, raja Sri Alengka (Srilangka), mengindikasikan betapa miskinnya pengetahuan Rama tentang laut, sehingga ia meminta bantuan bangsa Dravida-Indonesia yang takluk (yang digambarkan sebagai monyet) itu. Wajarlah jika raja monyet paling sakti yang menghamba pada Rama, Hanuman, di-“anugerahi” posisi khas: diputihkan kulit(dan bulu)nya, sebagaimana kulit bangsa Arya. Padahal sesungguhnya Hanuman adalah pengkhianat bagi bangsanya sendiri.

Penaklukan besar yang teriwayatkan dalam sastra indah ini, memberi kita beberapa proposisi interogatif yang menantang: tidakkah kolonialis Arya di Dravida yang datang ke pulau Sumatera dan Jawa, memanfaatkan teknologi pelayaran nusantara, untuk menaklukkan penguasa-penguasa pribumi di kepulauan itu? Tidakkah mitologi Ajisaka bagi masyarakat Jawa hanyalah sebuah legitimasi historis yang mitis, untuk penaklukan yang berpola sama dengan Rama? Ajisaka menaklukkan Dewata Cengkar (penguasa pribumi yang digambarkan sebagai rasaksa, sebagaimana rahwana), melalui senjata sederhana, kain pengikat kepala, sehingga membuat Dewata Cengkar tersingkir perlahan dan akhirnya tercebur ke laut, menjadi dhemit di selat Banyuwangi?

Betapa mitologi ini sudah menipu kita berabad-abad? Seakan orang Jawa ontologinya berujung pada pangeran dari India Selatan yang membawa aksara hanacaraka, yang tak lain kembangan dari bahasa suci Arya, Sansekerta? Semacam politik bahasa yang mengerangkeng pola dan daya tutur penuh suasana dari bahasa Jawa? Betapa keliru karenanya, bila orang Jawa, khususnya para raja dan sultannya jika mengidentifikasi diri pada mitologi dan politik bahasa ini. Atau memang kerajaan-kerajaan di Jawa tidak lain adalah pewaris pelanjut dari tradisi kerajaan Arya yang berorientasi kontinental alias daratan?

Dapatkan 7 botol @ 6 ml Melia Propolis hanya dengan Rp 635,000. Anda akan langsung menjadi member MLM PT Melia Sehat Sejahtera dengan peluang penghasilan hingga Rp 850,000 sehari…!!! Unduh formulir pemesanannya diSINI, lalu kirimkan e-mail order ANDA kedenggleng@yahoo.com, segera !

FacebookShare

 

Catatan KDP: Bagian Artikel Indonesia maritim dari Mas Radar Panca Dahana ini mengingatkan penulis tentang beberapa figur patung yang terserak di Candi Cetha, Karanganyar. Sayang wujut patung-patung itu sebagian besar rusak pada bagian wajah. Mungkin ini disengaja oleh penguasa “spiritual” jaman dulu, ketika menemukan Candhi Cetha. Ada beberapa figur yang spertinya menunjukkan figur Mongoloid (Cina) dan India (menilik dari bentuk hidung, kumis dan cambangnya). Kesemua figur umumnya pada posisi ‘tunduk’ atau ‘menghormat’ pada sesuatu. Figur negroid atau mungkin Assiria, malah pada posisi berjongkok dan menangkupkan tangan. Dua patung berikut saya duga menunjukkan figur Cina (menilik dari pakaiannya dan raut muka yang bersih, bermata ‘sipit’).  – perlu di ingat bahwa Candi Cetha dibangun di puncak suatu bukit terjal. Kami ke sana dengan SUV Terios pun ngos-ngosan untuk mencapai parkiran di plataran candi. Herannya di depan candi di balik Gerbang Bentar (yang sepertinya ditambahkan belakangan oleh penguasa Majapahit) ada sosok PENYU membelakangi candi induk. Di puncak candi induk terdapat tumpukan batu granit yang persis seperti ‘bangun ka’bah’… apa maknannya ini? (foto ka’bah dan penyu saya upload di bagian bawah posting ini.)

Guru bagi Cina dan India

CinaCetha575x855

IndiaCetha686x840

Penjelajahan laut bangsa Indonesia purba pada 5,000 tahun yang lalu memang mengarungi Samudera Hindia terus ke Barat melewati India dan Srilangka untukmenghindari perompak dan akhirnya tak pernah tercatat dalam literatur India. Namun seorang petugas penangkap India kolonial yang kemudian menjadi etnograf kelautan, James Hornell, pada 1920 membuat catatan yang mengejutkan dunia ilmu, ketika ia menulis artikel tentang proses settlement orang-orang Polinesia (Indonesia) di India Selatan, 5000 tahun SM, di era pra-Dravida.

Berdasarkan temuannya tentang kano-kano bercadik, teknik memancing ikan hingga penggunaan senjata sumpit, yang semuanya adalah khas produk kultural bangsa Indonesia purba, Hornell membuktikan bagaimana bangsa pendatang itu akhirnya berakulturasi dengan bangsa Dravida untuk melahirkan kultur dan etnik baru. Pada masa inilah perdagangan dunia lintas benua mencapai puncaknya, begitu pula peradabannya. Bukti-bukti arkeologis memperlihatkan, bagaimana Cina yang mulai terlihat dengan perdagangan laut itu mempercayakan semua pengangkutan barang dagangnya pada para pelaut Indonesia.

Begitupun India, yang dianeksasi secara berdarah oleh bangsa Arya dengan bahasa Indo-Eropanya pada 1800 SM, berkembang menjadi bangsa yang hanya tahu daratan. Sebagaimana kesimpulan GR Tibbets, “Mayoritas ilmuwan abad 19 merasa sangat yakin bahwa bangsa India bukanlah bangsa pelaut.” Sebagaimana kita tahu, bangsa Arya yang berasal dari stepa-stepa kering di kawasan yang kini menjadi Ukraina, tidak pernah mengenal laut sepanjang hidupnya.

Seorang pengamat maritim India, Radha Kumud Mookerji, habis-habisan mencoba membuktikan keandalan pelaut India yang hampir semuanya terbantahkan. Termasuk bukti pamungkas dimana dia menunjuk relief perahu-perahu bercadik di candi Borobudur – yang dibangun dengan bantuan tenaga ahli India – tidak lain tak bukan sebenarnya adalah perahu asli buatan Indonesia.

Jauh hari sebelum Cina membangun armada lautnya yang hebat, seperti yang diperlihatkan oleh Laksamana Cheng Ho, misalnya, Indonesia sudah memberi pelajaran penting kepada mereka tentang bagaimana membuat kapal, mulai dari jenis jung yang sederhana hingga kapal layar ratusan ton. Untuk soal laut, Cina dan India, bukan apa-apanya bagi bangsa Indonesia, sejak dulu kala.

PenyuCetha804x1072

kakbahCetha1072x804

FacebookShare

608px-Musician_BorobudurMaka tak mengherankan bila arkeolog Giorgio Buccelati menemukan wadah berisi cengkih di rumah seorang pedagang di Terqa, Efrat Tengah, yang hidup dalam kurun 1700 SM. Atau arkeolog Inggris, Julian Reade, menemukan sisa-sisa domba atau biri-biri di pulau Timor dari kurun masa hampir sama (1500 SM). Tak ada penjelasan lain yang paling mungkin, selain cengkih yang masa itu hanya tumbuh di kepulauan Maluku dan biri-biri yang hanya dikembang-biakkan di Timur Tengah, dibawa oleh para pelaut Indonesia.
Ptolemeus sendiri menyebut beberapa kali kata baroussai, yang diyakini adalah kota dagang kuno Barus di (pantai Barat) Sumatera Tengah, sebagai penghasil kayu barus (kapur barus, WDW), dan pengekspor bahan-bahan utama pembuatan balsam untuk pengawetan mayat Raja Ramses II pada 5000 SM. Ptolemeus juga yang menyebut sebuah kata yang juga dimuat dalam kitab tertua di Yunani, Periplous tes Erythrais Thalasses (Periplous of the Erythrean Sea) yang ditulis pada pertengahan abad 1 M: Chrisye. Kata yang tidak lain menunjuk pada kepulauan di Indonesia, Sumatera khususnya.
Periplous menyebut kata itu dalam penjabarannya tentang 4 jenis kapal yang ditemukan di India, yang dua diantaranya sangara dan kolandiaphonta dibuktikan keasliannya adalah kapal-kapal penjelajah samudera buatan orang Indonesia. Kata kolandiaphonta pun sebenarnya merupakan suatu transkripsi dari terminologi Cina, kun-lun-po, yang berarti “kapal dari selatan”, nama Cina untuk pulau Sumatera atau Jawa.
perahu-bercadik-borobudurBahkan Bible dalam 1 Raja-raja 9:27-28 mengisahkan tentang Hiram dari 1000 SM yang mengikuti Salomo dan mempersembahkan barang bawaan kapal-kapalnya berupa emas, perak, gading, kera, serta burung merak (1 Raja-raja 10:22). Kata-kata yang notabene, setelah ditelusuri asal-usulnya tidak berasal dari bahasa Timur Tengah, Bahasa India, Sanskerta atau Pali, tetapi dari bahasa Dravida di Tamil Selatan. Suatu daerah yang mengisahkan kejayaan hebat lain dari para pelaut Indonesia.

FacebookShare
Indonesia Maritim: Berakhirnya Tipuan Ajisaka
Radar Panca Dahana
OLYMPUS DIGITAL CAMERATampaknya buku-buku sejarah Indonesia yang ada saat ini memang harus dihanguskan dan ditulis kembali dengan cara dan pendekatan yang sama sekali berbeda. Bukan juga hanya dengan sekadar menambahkan betapa di masa lalu, satu setengah milenium lalu, bangsa ini sudah memiliki armada maritim yang kuat di kerajaan Sriwijaya hingga Majapahit. Apalagi bukan dengan sebuah awalan yang mistis, ketika Ajisaka yang menurut Mangkunegara IV mendarat di pulau Jawa pada 78 M untuk mengadabkan bangsa-bangsa di kepulauan ini.
Lebih jauh dari itu. Lebih jauh bahkan dari perkiraan saya sendiri, ketika membaca karya masterpiece sejarawan Perancis, Dennys Lombard, Le Cerrefour Javanais, sepuluh tahun lalu, dimana saya temukan data yang mengatakan adanya ekspedisi laut dari Jawa mendatangi Afrika dengan membawa hasil-hasil bumi berharga (emas, pala, pisang dll) untuk ditukarkan budak, pada 100 SM. Kisah yang ditulis oleh geograf Yunani asal Mesir, Ptolemeus (110 AD) itu, memberikan kita sebuah sugesti tentang sebuah kerajaan kuna di Jawa yang sudah cukup advance, bahkan tingkat perdagangannya, hingga ia membutuhkan budak, jauh abad sebelum Eropa, apalagi Amerika memerlukannya.
Data mutahir dari para ahli maritim, baik tentang Afrika, Eropa atau Asia Tenggara, menghasilkan temuan-temuan yang sangat mengejutkan. Temuan yang menunjukkan betapa bangsa Indonesia adalah bangsa maritim yang diakui, dijadikan acuan bahkan disegani bangsa-bangsa (berperadaban tunggi) lainnya di dunia, seperti Mesir, India, Cina hingga Eropa. Dan hal itu sudah dimulai dari suatu tarikh yang dalam imajinasi pun sulit kita menjangkaunya: 60,000 tahun yang lalu.
Di masa itu, sekumpulan manusia Australo-Melanesia yang berkebun dan berladang, keturunan langsung dari penghuni asal, Homo erectus yang diketemukan fosilnya di Solo, mendiami dataran Sunda, melakukan perjalanan sulit ke daerah kosong di dataran Sahul, memanfaatkan siklus alam yang membuat permukaan laut turun hingga 50m dari pantai. Dan ajaib, dengan teknologi perkapalan sederhana, mereka berhasil mengarungi 70 km laut hingga Australia dan Nugini, untuk menjadi nenek moyang dari bangsa Aborigin di sana.
Pada 35,000 tahun yang lalu, manusia yang sama, kembali melakukan perjalanan samudera ke kepulauan Admiralty di gugusan kepulauan Bismarck yang berjarak 200 km. Bandingkan dengan fakta bangsa Eropa menghuni pulau Siprus dan Kreta pertama kalinya, baru pada 8,000 tahun lalu dengan jarak yang tak lebih dari 80 km. Dan Penjelajahan bangsa purba Indonesia tidak berhenti, hingga 5,500 tahun yang lalu mereka menyeberangi Pasifik untuk mencapai dan berdiam di pulau Fiji, pulau Paskah (salah satu tempat terpencil di muka bumi), bahkan Hawaii dan dua pulau besar di Selandia Baru.
Penjelajahan terakhir di atas dilakukan oleh pendatang berbahasa Mongoloid-Austronesia yang datang dari Formoza (Taiwan). Melewati selat Luzon mereka datang ke Nusantara membawa teknik pertanian “tebang dan bakar” serta perahu bercadik sebagai alat penyeimbang. Di kepulauan besar itulah mereka bertemu, bergaul, bercampur dan bersilang budaya serta keturunan dengan bangsa Australo-Melanesia asal paparan Sunda, untuk kemudian mengembangkan sistem genetika, bahasa dan sistem budaya yang rumit. Sistem yang merupakan pencampuran kulit putih/kuning dan kulit gelap yang bagi banyak ahli “hingga saat ini masih saja memperumit penentuan pola rasial di Indonesia” (hal ini akan dibicarakan kemudian).
Yang jelas, di saat yang bersamaan nenek moyang bangsa Indonesia ini tidak hanya melakukan pelayaran dan penjelajahan mengagumkan ke Timur, melintasi Pasifik, tetapi juga ke Barat menembus Samudera Hindia. Banyak catatan para ahli yang mengatakan bagaimana mereka akhirnya mendiami dan membangun kultur tersendiri di Madagaskar, membentuk bansa Afro-Indonesia, karena pergaulan ketatnya dengan bangsa-bangsa Afrika. Suatu catatan bahkan mengisahkan bagaimana orang Madagaskar yang bahasanya “asing” menyatroni shamba-shamba dan desa-desa di pantai Timur Afrika untuk menjarah dan memperoleh budak.

Dalam literatur arkeologi tersebut bangsa Zanj (asal kata yang melahirkan Azania, Zanzibar atau Tanzania) di Afrika Timur, yang tidak lain adalah keturunan Afro-Indonesia dan menetap untuk berkolaborasi dengan orang Zimbabwe, jauh abad sebelum Arab dan Swahili datang ke sana. Keberadaan orang Afro-Indonesia mengesankan, karena mereka terlibat dalam pertambangan emas, hasil bumi yang membuat Zimbabwe begitu terkenal hingga paruh pertama milenium baru, masa yang sama dengan kerajaan Sriwijaya di Swarnadwipa (Pulau Emas).

FacebookShare

STRES DAN KORTISOL BERLEBIHAN

Cortisol_production_PIStres dapat menyebabkan pertumbuhan ragi Candida karena alasan yang sangat rasional. Stres menyebabkan pelepasan hormon khusus, kortisol (cortisol). Kortisol dapat menurunkan kinerja sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan kandungan gula darah. Kandungan gula darah yang tinggi merupakan makanan bagi sel-sel ragi Candida yang memungkinkan mereka tumbuh dengan cepat. Depresi fungsi kekebalan tubuh akan menyebabkan tubuh kekurangan daya tahan terhadap pertumbuhan ragi Candida yang mendadak dan cepat. Dua macam reaksi ini cenderung terjadi karena meningkatnya hormon kortisol. Ini adalah alasan yang rasional mengapa stres dapat menyebabkan infeksi Candida.

Kortisol bersifat adiktif (menimbulkan ketagihan) bagi tubuh. Ini meningkatkan kandungan gula darah dan mengurangi inflamasi. Ada beberapa studi yang menunjukkan bahwa tubuh dapat menjadi kecanduan kortisol dan bereaksi untuk menjaga agar kandungannya tetap tinggi. Ada beberapa nutrisi sederhana yang membantu menurunkan kadar kortisol dan kembali normal dengan menimbulkan sinyal kepada sistem saraf untuk bersantai.

Dapatkan 7 botol @ 6 ml Melia Propolis hanya dengan Rp 635,000. Anda akan langsung menjadi member MLM PT Melia Sehat Sejahtera dengan peluang penghasilan hingga Rp 850,000 sehari…!!! Unduh formulir pemesanannya di SINI, lalu kirimkan e-mail order ANDA ke denggleng@yahoo.com, segera !

 

FacebookShare

constipation1Sembelit dapat disebabkan oleh ragi candidaSebaliknya, sembelit juga dapat menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan ragi candida. Jika seseorang tidak memiliki candida dan kemudian mengalami sembelit untuk alasan apapun, menandakan bahwa ragi candida mungkin mulai tumbuh di dalam saluran pencernaannya. Saluran pencernaan yang sembelit akan bergerak lambat dan bereaksi yang sangat alkalin (basa). Lingkungan alkalin sangat disukai ragi candida untuk tumbuh dan berkembang. Semakin alkalin (basa, pH tinggi) reaksi dalam saluran pencernaan semakin “bahagia” candida  hidup dan tumbuh di dalamnya.

Tidak peduli apa pun penyebabnya,  sembelit untuk alasan apapun dapat  menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan ragi candida.

 

Dapatkan 7 botol @ 6 ml Melia Propolis hanya dengan Rp 635,000. Anda akan langsung menjadi member MLM PT Melia Sehat Sejahtera dengan peluang penghasilan hingga Rp 850,000 sehari…!!! Unduh formulir pemesanannya di SINI, lalu kirimkan e-mail order ANDA ke denggleng@yahoo.com, segera !

FacebookShare
DAHSYAT…!!!
Bagaimana menjadikan MLM sebagai mesin uang dengan bonus HARIAN.... Tanpa TUP POIN, tidak pakai peringkat-2an.... tidak juga janji reward muluk-muluk, cukup dengan SATU MACAM PENGHASILAN yaitu BONUS, Uang dan Produk....
Arsip
Kategori
MSS Bogor Group
DAFTAR SEKARANG
NETWORK TRAINING CENTER
Anda ingin berlatih dan belajar networking PT MSS, silakan datang di:
Jl. Johar I Blok C2 No. 23, Taman Pagelaran, Ciomas Bogor 16610
e-Mail: mssdramaga@yahoo.com
mssdramaga@gmail.com

Contact Persons:
Dr Ir Winarso D Widodo, MS (wd_widodo@yahoo.com)
Ir Nuraeni (mssdramaga@yahoo.com)
UNDANGAN
PT. MSS ingin menginformasikan cara hidup sehat di dunia yang semakin tidak sehat dengan polusi, radiasi, jutaan virus, bakteri, jamur dan zat-zat racun lainnya yang siap menyerang Anda.

Oleh karena itu kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk hadir di: Bogor Dramaga Agency, Jl. Johar I Blok C2 No. 23, Taman Pagelaran - Bogor. Setiap hari kerja jam 08.00 - 17.00.


Salam Sehat Sejahtera,
Ir Nuraeni
mssdramaga@yahoo.com; mssdramaga@gmail.com
Hosting & Domain Kompetitif
alt=
Download e-Book Bisnis Online
Download eBook CafeBisnis
Cafe Bisnis, Pembelajaran Online
Bisnis Online
free counters

sejak 19 April 2011

Bisnis Anti Macet
Bisnis Online