PROSPEK BISNIS…!!!

SOLUSI 3 masalah utama kehidupan: Kesehatan (Melia Propolis dan Melia Biyang), Penghasilan (modal Rp 635,000; potensi penghasilan hingga Rp 20,400,000 per BULAN), Leadership dan kualitas hidup ANDA dengan fasilitas kemudahan bertransaksi lewat internet (e-mail).

Bersama kami, mari kita nikmati hidup SEHAT di dunia yang semakin TIDAK SEHAT dengan mengonsumsi bersama PRODUK PT MELIA SEHAT SEJAHTERA. Cara bergabung di PT MSS sangat mudah, jelas, dan TIDAK ADA YANG RUGI.

Jangan Lewatkan:

  1. Bagaimana Propolis Menghentikan Kanker?

Read the rest of this entry »

FacebookShare

perahu-bercadik-borobudurMaka sangatlah vital dan mendesak, bila kita ingin mengidentifikasi realitas diri kita, hidup kita, di masa kini (juga dulu dan nanti), mesti lebih dulu “membersihkan” bekas-bekas yang keras dan dalam dari pendekatandarat kita. Tentu saja hal ini sangatlah sulit, mengingat kultur kerajaan konsentris kini begitu meresap dan (dianggap) menjadi jati diri kita sebenarnya, termasuk dalam permainan politik mutakhir atau gerak ekonomi kita saat ini.

Namun hal itu mungkin bisa dimulai dari usaha mengidentifikasi pola rasial – seperti tersebut di halaman awal – juga pola relasi kultural yang terbangun sejak bercampurnya bangsa dan budaya Mongoloid-Austronesia dengan Australo-Melanesia. Dilihat dari akarnya, bangsa Indonesia adalah manusia yang berkulit gelap, sebagaimana kita temukan di pribumi Australia hingga Nugini dan kepulauan Fiji. Bercampur dengan pendatang dari Formosa yang melintas Selat Luzon, melahirkan suku-suku bangsa yang berkulit terang (Manado dan Maluku Utara) berhimpitan dekat bangsa berkulit gelap di Maluku Selatan dan Papua.

Pencampuran itu mengental bila kita bergerak ke Selatan. Dengan sisa-sisa Melanesia pada kulit agak gelap dan rambut keritingnya pada suku-suku bangsa di Timur Nusatenggara (bisa jadi Gajahmada berasal dari wilayah ini dilihat dari profil patungnya), hingga sampai pada Bali, Jawa dan Sumatera yang mulai coklat terang (sawo matang), yang boleh jadi juga karena percampuran secara genetik dengan albino Arya-Dravida. Maka lihatlah sebagian orang Jawa (orang kraton khususnya) yang relatif berkulit gelap, rambut lurus, dan hidung agak membengkok.

Tapi dari “hidung yang agak bengkok” inilah pergaulan atau interrelasi budaya nusantara yang sebelumnya terjadi secara dinamis, egaliter, terbuka, dan cair (sebagaimana karakter bangsa pesisir/pelaut) berubah menjadi statis, tertutup, feodal, dan kaku, sebagaimana tradisi kerajaan konsentris, seperti Demak dan Mataram. Usaha untuk melawan kecenderungan kultural itu, yang dilakukan oleh Mpu Sindok, dengan memindahkan pusat kerajaan ke kota pesisir Surabaya, dan mengangkat Gajah Mada, yang bisa jadi pelaut sejati asal Flores, cukup sukses pada awalnya, tetapi tenggelam juga akhirnya dengan datangnya agama daratan, Islam.

Agama baru ini datang dibawa oleh para mubalig-pengembara berasal dari kultur daratan (India, Arab dan Cina), lebih bisa berkompromi dengan tradisi Hindu/Buddha yang juga merupakan agama-darat. Bukan dengan agama para pelaut yang dewa-dewa dan tuhannya ada di lautan. Maka pergaulan budaya pun kembali memadat dan ketat, dalam regulasi semacam syariah, adat, dan sebagainya.

Kepadatan, keketatan, ketertutupan, ekskluisivitas-feodal, dan sebagainya inilah yang mesti kita coba lucuti untuk mengetahui dan memahami bagaimana budaya bangsa kita sebenarnya berakar dari dunia maritim. Dunia yang telah membawa kita ke ujung dunia terjauh, bahkan mungkin mencapai Amerika, sebelum Hsun-Fu diutus Shi-Huang-Ti menjelajah ke sana, apalagi Columbus yang seperti anak kemarin sore.

Sebagai gugusan puluhan ribu pulau, ratusan sub-etnik dan bahasa, kita adalah bangsa yang menggunakan laut untuk berkumunikasi, berdagang, berakulturasi, berproduksi dan berkreasi. Semua terjadi dalam kesetaraan, keterbukaan, dan kesediaan menerima yang asing (the others) secara ikhlas. Suatu mekanisme budaya yang membuat suku-suku bangsa di kepulauan ini terus berkembang, memperkaya diri, tanpa ada dominasi (apalagi nafsu kolonisasi), dan pada akhirnya mempertahankan diri mereka sebagai sebuah kesatuan, bhineka tunggal ika, hingga detik ini.

Pertanyaannya: dapatkah, lebih tepat mungkinkah, kita membalik kembali jalan sejarah kita? Dengan apa? Atau mungkin lebih pragmatis, perlukah? Di dalam peradaban mutakhir yang dikuasai oleh kultur kontinental (Eropa dan Cina, misalnya), adakah budaya bahari masih memiliki ruang untuk hidup? Apalagi dengan kecenderungan mutakhir, ketika laut dikuantifikasi menjadi jarak (bukan sebagai sesuatu yang hidup) yang kemudian ditaklukkan oleh teknologi (transportasi dan komunikasi, misalnya), adakah kebaharian masih perlu dipertahankan?

Lebih jauh lagi, beberapa bangsa sudah melihat darat dan laut bukan lagi masa depan bangsa, karena keduanya kini hanya menjadi restan atau limbah dari kerakusan teknologi. Kini mereka  berpaling ke wilayah lain: udara. Daerah sans frontiere kata Gene Roddenberry dalam Star Trek. Aerah tak bertuan dan belum ada peradaban apa pun yang membentuknya. Ke sanakah orientasi diri kita kini harus menuju?

Sekalian pemikir di negeri ini harus menjawabnya.

Jakarta, 25 Oktober 2009

Ide untuk Pengantar Diskusi “Budaya Bangsa Bahari”, Hotel Sultan Jakarta, 26 Oktober 2009.

FacebookShare

608px-Musician_Borobudur

Saya kira di sinilah kunci persoalannya. Kekalahan bangsa pesisir Dravida-Indonesia membawa akibat sangat jauh: menciptakan kekalahan bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan, dalam seluruh dimensinya. Ini memang masih bersifat hipotetik, datangnya kolonialis awal dari daerah Dravida, India Selatan, ke Indonesia membawa dampak kultural yang sangat dalam dan terasa bahkan menjadi given hingga di masa sekarang.

Dampak itulah yang dianalisis dengan cermat oleh Denys Lombard, sebagai lahir dan berkembangnya kultur daratan dari kerajaan-kerajaan konsentris di sekitar pusat atau pedalaman Jawa bagian tengah, tempat-tempat yang hinga saat ini dikenal penduduk setempat sebagai paku bumi, pusat dunia, di gunung Lawu dan sekitarnya. Kultur daratan ini tidak lain adalah transplantasi dari kultur stepa bangsa Arya, yang tidak mengenal laut sama sekali. Sebuah kultur yang dengan kekuatan peradaban kuno, penjelasan daratannya yang panjang dan diaspora yang hebat di kala itu, mampu melakukan tekanan keras pada bangsa-bangsa pelaut serta pesisir, Sehingga bangsa-bangsa terakhir itu takluk dan membiarkan dirinya tenggelam dalam cara berpikir, carang hidup, relasi sosial, spiritualitas hingga ekspresi artistik yang berpola pedalaman (daratan/konsentris).

 

Dapatkan 7 botol @ 6 ml Melia Propolis hanya dengan Rp 635,000. Anda akan langsung menjadi member MLM PT Melia Sehat Sejahtera dengan peluang penghasilan hingga Rp 850,000 sehari…!!! Unduh formulir pemesanannya diSINI, lalu kirimkan e-mail order ANDA kedenggleng@yahoo.com, segera !

FacebookShare

(Hanuman: tokoh idola atau penghianat?)

Catatan KDP: Saya sangat tercenung dan terkejut membaca bagian artikel Mas Radar Panca Dahana tentang “Tipuan Ajisaka” ini. Keterkejutan saya terletak pada figur tokoh epos Ramayana: HANUMAN. Ya, dalam pewayangan Ramayana versi Jawa, Hanuman (Anoman) sudah menjadi idola. Bahkan dimitologikan sebagai “Anak derivatif Hyang Bayu, dengan ciri berkain POLENG dan menggenggam kuku PANCANAKA, ketajaman yang LIMA. Tapi apakah benar dugaan Mas Radar, bahwa sebagai raja monyet yang maha sakti, Hanuman ternyata hanyalah sebagai tokoh penghianat bangsa Monyet yang membantu raja Arya Ramawijaya menaklukkan Rahwana (raja Sri Alengka)? Apakah benar rombongan monyet Gua Kiskendha itu sebenarnya satu rumpun bangsa dengan bangsa raksasa Alengka, sebagai lambang bangsa Dravida-Indonesia yang akan ditaklukkan oleh bangsa Arya? Silakan direnungkan….

Yang jelas perahu atau kapal bercadik yang tergambar di relief dinding Borobudur menyiratkan bahwa itu adalah kapal bangsa Indonesia terutama di pesisir selatan Jawa dan juga ciri khas kapal bangsa laut seperti suku Bajo. Karena ciri bercadik itulah yang memungkinkan kapal-kapal Nusantara mampu mengarungi samudera Pasifik (menuju kepulauan Fiji dan Selandia baru) dan samudera Hindia menuju Madagaskar dan bahkan mencapai pantai Afika Barat dengan membawa perbekalan yang hingga sekarang dapat dilacak buktinya berupa: AYAM, PISANG RAJA dan PISANG TANDUK, dan juga tanaman TALAS-TALASAN.

TIPUAN AJISAKA

perahu-bercadik-borobudurMaka, dari fakta yang diringkas sebelumnya (Indonesia Maritim #1 – #3), bisa kita mendapat pemahaman bagaimana kebudayaan Indonesia sebenarnya telah dibangun dengan cara yang sangat mengagumkan, dari kehidupan dan pengetahuannya tentang kelautan. Bukan daratan. Dan itu tidak hanya membuktikan betapa sebenarnya jati diri dan identitas muasal kita adalah pelaut sejati, bangsa laut yang besar dan disegani di masa purba (pra-sejarah), yang berinteraksi secara intens dengan peradaban-peradaban besar dan purba di Mesopotamia, Babylonia, Indus hingga Cina, tetapi juga serentak itu ia membantah keterangan sejarah yang kini taken for granted bagi kita, bahkan menjadi mitos.

Keterangan di atas membalik uraian sejarah formal bahwa Indonesia dibentuk oleh pendatang-pendatang dari sungai Mekong pada 3000 SM, atau kemudian diadabkan oleh bangsa India, disusul Arab, Cina, dan Eropa. Kenyataannya kita adalah bangsa yang sudah berdagang jauh sebelum Yesus atau Nabi Muhammad lahir. Tidak mengherankan, bila banyak bukti baru mengatakan Islam datang ke Indonesia bukan lagi pada awal abad 11 lewat para mubalig Cina dan Gujarat, tetapi sejak masa Nabi masih hidup. Bisa jadi begitu pula dengan agama Kristen, Buddha bahkan Hindu. [Atau mungkin justru substansi agama-agama itu diajarkan dan disebarkan oleh pelaut-pelaut Nusantara, jauh sebelum ditulisnya kitab-kitab dari bangsa Ibrani? Lewat guru-guru spiritual Nusantara yang kemudian nama-namanya diabadikan dan disucikan sebagai nama-nama dewa dan malaikat? - KDP]

Figur Timur Tengah atau Afrika?Kita tahu kini, sejak bangsa Arya mulai menempati lereng Himalaya dan sungai Gangga pada 1500 SM, mereka membutuhkan waktu 1,000 tahun lagi (500 SM) untuk sampai wilayah Selatan India, di mana ternyata sudah merupakan perkampungan orang Indonesia yang semarak di sana. Di masa itulah dipercaya, kitab-kitab utama Buddha lahir, kitab Vedha menyebar, dan peradaban Yunani melahirkan filosof-filosof yang tajam pikirannya.

Maka adalah hal yang sangat masuk akal, bahwa orang Indonesia (Austronesia) yang bercampur dengan Dravida sebenarnya adalah lawan dari penjajah Arya yang tengah mencoba melebarkan koloninya hingga Srilangka. Di sinilah, saya kira, mitologi Arya, Ramayana mendapatkan konteks historisnya. Rama sebagai raja Arya memerangi Rahwana, raja maha sakti Dravida. Dengan kelicinannya Rama menggunakan ‘rakyat setempat yang takluk’ sebagai “pasukan para” di garda depan. Rakyat yang berkulit gelap yang dipersonafikasi melalui monyet-monyet dan raja-raja monyet yang ditaklukkannya.

Babak Ramayana yang mengisahkan bagaimana Rama membangun jembatan monyet untuk menyerbu Rahwana, raja Sri Alengka (Srilangka), mengindikasikan betapa miskinnya pengetahuan Rama tentang laut, sehingga ia meminta bantuan bangsa Dravida-Indonesia yang takluk (yang digambarkan sebagai monyet) itu. Wajarlah jika raja monyet paling sakti yang menghamba pada Rama, Hanuman, di-“anugerahi” posisi khas: diputihkan kulit(dan bulu)nya, sebagaimana kulit bangsa Arya. Padahal sesungguhnya Hanuman adalah pengkhianat bagi bangsanya sendiri.

Penaklukan besar yang teriwayatkan dalam sastra indah ini, memberi kita beberapa proposisi interogatif yang menantang: tidakkah kolonialis Arya di Dravida yang datang ke pulau Sumatera dan Jawa, memanfaatkan teknologi pelayaran nusantara, untuk menaklukkan penguasa-penguasa pribumi di kepulauan itu? Tidakkah mitologi Ajisaka bagi masyarakat Jawa hanyalah sebuah legitimasi historis yang mitis, untuk penaklukan yang berpola sama dengan Rama? Ajisaka menaklukkan Dewata Cengkar (penguasa pribumi yang digambarkan sebagai rasaksa, sebagaimana rahwana), melalui senjata sederhana, kain pengikat kepala, sehingga membuat Dewata Cengkar tersingkir perlahan dan akhirnya tercebur ke laut, menjadi dhemit di selat Banyuwangi?

Betapa mitologi ini sudah menipu kita berabad-abad? Seakan orang Jawa ontologinya berujung pada pangeran dari India Selatan yang membawa aksara hanacaraka, yang tak lain kembangan dari bahasa suci Arya, Sansekerta? Semacam politik bahasa yang mengerangkeng pola dan daya tutur penuh suasana dari bahasa Jawa? Betapa keliru karenanya, bila orang Jawa, khususnya para raja dan sultannya jika mengidentifikasi diri pada mitologi dan politik bahasa ini. Atau memang kerajaan-kerajaan di Jawa tidak lain adalah pewaris pelanjut dari tradisi kerajaan Arya yang berorientasi kontinental alias daratan?

Dapatkan 7 botol @ 6 ml Melia Propolis hanya dengan Rp 635,000. Anda akan langsung menjadi member MLM PT Melia Sehat Sejahtera dengan peluang penghasilan hingga Rp 850,000 sehari…!!! Unduh formulir pemesanannya diSINI, lalu kirimkan e-mail order ANDA kedenggleng@yahoo.com, segera !

FacebookShare

 

Catatan KDP: Bagian Artikel Indonesia maritim dari Mas Radar Panca Dahana ini mengingatkan penulis tentang beberapa figur patung yang terserak di Candi Cetha, Karanganyar. Sayang wujut patung-patung itu sebagian besar rusak pada bagian wajah. Mungkin ini disengaja oleh penguasa “spiritual” jaman dulu, ketika menemukan Candhi Cetha. Ada beberapa figur yang spertinya menunjukkan figur Mongoloid (Cina) dan India (menilik dari bentuk hidung, kumis dan cambangnya). Kesemua figur umumnya pada posisi ‘tunduk’ atau ‘menghormat’ pada sesuatu. Figur negroid atau mungkin Assiria, malah pada posisi berjongkok dan menangkupkan tangan. Dua patung berikut saya duga menunjukkan figur Cina (menilik dari pakaiannya dan raut muka yang bersih, bermata ‘sipit’).  – perlu di ingat bahwa Candi Cetha dibangun di puncak suatu bukit terjal. Kami ke sana dengan SUV Terios pun ngos-ngosan untuk mencapai parkiran di plataran candi. Herannya di depan candi di balik Gerbang Bentar (yang sepertinya ditambahkan belakangan oleh penguasa Majapahit) ada sosok PENYU membelakangi candi induk. Di puncak candi induk terdapat tumpukan batu granit yang persis seperti ‘bangun ka’bah’… apa maknannya ini? (foto ka’bah dan penyu saya upload di bagian bawah posting ini.)

Guru bagi Cina dan India

CinaCetha575x855

IndiaCetha686x840

Penjelajahan laut bangsa Indonesia purba pada 5,000 tahun yang lalu memang mengarungi Samudera Hindia terus ke Barat melewati India dan Srilangka untukmenghindari perompak dan akhirnya tak pernah tercatat dalam literatur India. Namun seorang petugas penangkap India kolonial yang kemudian menjadi etnograf kelautan, James Hornell, pada 1920 membuat catatan yang mengejutkan dunia ilmu, ketika ia menulis artikel tentang proses settlement orang-orang Polinesia (Indonesia) di India Selatan, 5000 tahun SM, di era pra-Dravida.

Berdasarkan temuannya tentang kano-kano bercadik, teknik memancing ikan hingga penggunaan senjata sumpit, yang semuanya adalah khas produk kultural bangsa Indonesia purba, Hornell membuktikan bagaimana bangsa pendatang itu akhirnya berakulturasi dengan bangsa Dravida untuk melahirkan kultur dan etnik baru. Pada masa inilah perdagangan dunia lintas benua mencapai puncaknya, begitu pula peradabannya. Bukti-bukti arkeologis memperlihatkan, bagaimana Cina yang mulai terlihat dengan perdagangan laut itu mempercayakan semua pengangkutan barang dagangnya pada para pelaut Indonesia.

Begitupun India, yang dianeksasi secara berdarah oleh bangsa Arya dengan bahasa Indo-Eropanya pada 1800 SM, berkembang menjadi bangsa yang hanya tahu daratan. Sebagaimana kesimpulan GR Tibbets, “Mayoritas ilmuwan abad 19 merasa sangat yakin bahwa bangsa India bukanlah bangsa pelaut.” Sebagaimana kita tahu, bangsa Arya yang berasal dari stepa-stepa kering di kawasan yang kini menjadi Ukraina, tidak pernah mengenal laut sepanjang hidupnya.

Seorang pengamat maritim India, Radha Kumud Mookerji, habis-habisan mencoba membuktikan keandalan pelaut India yang hampir semuanya terbantahkan. Termasuk bukti pamungkas dimana dia menunjuk relief perahu-perahu bercadik di candi Borobudur – yang dibangun dengan bantuan tenaga ahli India – tidak lain tak bukan sebenarnya adalah perahu asli buatan Indonesia.

Jauh hari sebelum Cina membangun armada lautnya yang hebat, seperti yang diperlihatkan oleh Laksamana Cheng Ho, misalnya, Indonesia sudah memberi pelajaran penting kepada mereka tentang bagaimana membuat kapal, mulai dari jenis jung yang sederhana hingga kapal layar ratusan ton. Untuk soal laut, Cina dan India, bukan apa-apanya bagi bangsa Indonesia, sejak dulu kala.

PenyuCetha804x1072

kakbahCetha1072x804

FacebookShare

608px-Musician_BorobudurMaka tak mengherankan bila arkeolog Giorgio Buccelati menemukan wadah berisi cengkih di rumah seorang pedagang di Terqa, Efrat Tengah, yang hidup dalam kurun 1700 SM. Atau arkeolog Inggris, Julian Reade, menemukan sisa-sisa domba atau biri-biri di pulau Timor dari kurun masa hampir sama (1500 SM). Tak ada penjelasan lain yang paling mungkin, selain cengkih yang masa itu hanya tumbuh di kepulauan Maluku dan biri-biri yang hanya dikembang-biakkan di Timur Tengah, dibawa oleh para pelaut Indonesia.
Ptolemeus sendiri menyebut beberapa kali kata baroussai, yang diyakini adalah kota dagang kuno Barus di (pantai Barat) Sumatera Tengah, sebagai penghasil kayu barus (kapur barus, WDW), dan pengekspor bahan-bahan utama pembuatan balsam untuk pengawetan mayat Raja Ramses II pada 5000 SM. Ptolemeus juga yang menyebut sebuah kata yang juga dimuat dalam kitab tertua di Yunani, Periplous tes Erythrais Thalasses (Periplous of the Erythrean Sea) yang ditulis pada pertengahan abad 1 M: Chrisye. Kata yang tidak lain menunjuk pada kepulauan di Indonesia, Sumatera khususnya.
Periplous menyebut kata itu dalam penjabarannya tentang 4 jenis kapal yang ditemukan di India, yang dua diantaranya sangara dan kolandiaphonta dibuktikan keasliannya adalah kapal-kapal penjelajah samudera buatan orang Indonesia. Kata kolandiaphonta pun sebenarnya merupakan suatu transkripsi dari terminologi Cina, kun-lun-po, yang berarti “kapal dari selatan”, nama Cina untuk pulau Sumatera atau Jawa.
perahu-bercadik-borobudurBahkan Bible dalam 1 Raja-raja 9:27-28 mengisahkan tentang Hiram dari 1000 SM yang mengikuti Salomo dan mempersembahkan barang bawaan kapal-kapalnya berupa emas, perak, gading, kera, serta burung merak (1 Raja-raja 10:22). Kata-kata yang notabene, setelah ditelusuri asal-usulnya tidak berasal dari bahasa Timur Tengah, Bahasa India, Sanskerta atau Pali, tetapi dari bahasa Dravida di Tamil Selatan. Suatu daerah yang mengisahkan kejayaan hebat lain dari para pelaut Indonesia.

FacebookShare
Indonesia Maritim: Berakhirnya Tipuan Ajisaka
Radar Panca Dahana
OLYMPUS DIGITAL CAMERATampaknya buku-buku sejarah Indonesia yang ada saat ini memang harus dihanguskan dan ditulis kembali dengan cara dan pendekatan yang sama sekali berbeda. Bukan juga hanya dengan sekadar menambahkan betapa di masa lalu, satu setengah milenium lalu, bangsa ini sudah memiliki armada maritim yang kuat di kerajaan Sriwijaya hingga Majapahit. Apalagi bukan dengan sebuah awalan yang mistis, ketika Ajisaka yang menurut Mangkunegara IV mendarat di pulau Jawa pada 78 M untuk mengadabkan bangsa-bangsa di kepulauan ini.
Lebih jauh dari itu. Lebih jauh bahkan dari perkiraan saya sendiri, ketika membaca karya masterpiece sejarawan Perancis, Dennys Lombard, Le Cerrefour Javanais, sepuluh tahun lalu, dimana saya temukan data yang mengatakan adanya ekspedisi laut dari Jawa mendatangi Afrika dengan membawa hasil-hasil bumi berharga (emas, pala, pisang dll) untuk ditukarkan budak, pada 100 SM. Kisah yang ditulis oleh geograf Yunani asal Mesir, Ptolemeus (110 AD) itu, memberikan kita sebuah sugesti tentang sebuah kerajaan kuna di Jawa yang sudah cukup advance, bahkan tingkat perdagangannya, hingga ia membutuhkan budak, jauh abad sebelum Eropa, apalagi Amerika memerlukannya.
Data mutahir dari para ahli maritim, baik tentang Afrika, Eropa atau Asia Tenggara, menghasilkan temuan-temuan yang sangat mengejutkan. Temuan yang menunjukkan betapa bangsa Indonesia adalah bangsa maritim yang diakui, dijadikan acuan bahkan disegani bangsa-bangsa (berperadaban tunggi) lainnya di dunia, seperti Mesir, India, Cina hingga Eropa. Dan hal itu sudah dimulai dari suatu tarikh yang dalam imajinasi pun sulit kita menjangkaunya: 60,000 tahun yang lalu.
Di masa itu, sekumpulan manusia Australo-Melanesia yang berkebun dan berladang, keturunan langsung dari penghuni asal, Homo erectus yang diketemukan fosilnya di Solo, mendiami dataran Sunda, melakukan perjalanan sulit ke daerah kosong di dataran Sahul, memanfaatkan siklus alam yang membuat permukaan laut turun hingga 50m dari pantai. Dan ajaib, dengan teknologi perkapalan sederhana, mereka berhasil mengarungi 70 km laut hingga Australia dan Nugini, untuk menjadi nenek moyang dari bangsa Aborigin di sana.
Pada 35,000 tahun yang lalu, manusia yang sama, kembali melakukan perjalanan samudera ke kepulauan Admiralty di gugusan kepulauan Bismarck yang berjarak 200 km. Bandingkan dengan fakta bangsa Eropa menghuni pulau Siprus dan Kreta pertama kalinya, baru pada 8,000 tahun lalu dengan jarak yang tak lebih dari 80 km. Dan Penjelajahan bangsa purba Indonesia tidak berhenti, hingga 5,500 tahun yang lalu mereka menyeberangi Pasifik untuk mencapai dan berdiam di pulau Fiji, pulau Paskah (salah satu tempat terpencil di muka bumi), bahkan Hawaii dan dua pulau besar di Selandia Baru.
Penjelajahan terakhir di atas dilakukan oleh pendatang berbahasa Mongoloid-Austronesia yang datang dari Formoza (Taiwan). Melewati selat Luzon mereka datang ke Nusantara membawa teknik pertanian “tebang dan bakar” serta perahu bercadik sebagai alat penyeimbang. Di kepulauan besar itulah mereka bertemu, bergaul, bercampur dan bersilang budaya serta keturunan dengan bangsa Australo-Melanesia asal paparan Sunda, untuk kemudian mengembangkan sistem genetika, bahasa dan sistem budaya yang rumit. Sistem yang merupakan pencampuran kulit putih/kuning dan kulit gelap yang bagi banyak ahli “hingga saat ini masih saja memperumit penentuan pola rasial di Indonesia” (hal ini akan dibicarakan kemudian).
Yang jelas, di saat yang bersamaan nenek moyang bangsa Indonesia ini tidak hanya melakukan pelayaran dan penjelajahan mengagumkan ke Timur, melintasi Pasifik, tetapi juga ke Barat menembus Samudera Hindia. Banyak catatan para ahli yang mengatakan bagaimana mereka akhirnya mendiami dan membangun kultur tersendiri di Madagaskar, membentuk bansa Afro-Indonesia, karena pergaulan ketatnya dengan bangsa-bangsa Afrika. Suatu catatan bahkan mengisahkan bagaimana orang Madagaskar yang bahasanya “asing” menyatroni shamba-shamba dan desa-desa di pantai Timur Afrika untuk menjarah dan memperoleh budak.

Dalam literatur arkeologi tersebut bangsa Zanj (asal kata yang melahirkan Azania, Zanzibar atau Tanzania) di Afrika Timur, yang tidak lain adalah keturunan Afro-Indonesia dan menetap untuk berkolaborasi dengan orang Zimbabwe, jauh abad sebelum Arab dan Swahili datang ke sana. Keberadaan orang Afro-Indonesia mengesankan, karena mereka terlibat dalam pertambangan emas, hasil bumi yang membuat Zimbabwe begitu terkenal hingga paruh pertama milenium baru, masa yang sama dengan kerajaan Sriwijaya di Swarnadwipa (Pulau Emas).

FacebookShare

STRES DAN KORTISOL BERLEBIHAN

Cortisol_production_PIStres dapat menyebabkan pertumbuhan ragi Candida karena alasan yang sangat rasional. Stres menyebabkan pelepasan hormon khusus, kortisol (cortisol). Kortisol dapat menurunkan kinerja sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan kandungan gula darah. Kandungan gula darah yang tinggi merupakan makanan bagi sel-sel ragi Candida yang memungkinkan mereka tumbuh dengan cepat. Depresi fungsi kekebalan tubuh akan menyebabkan tubuh kekurangan daya tahan terhadap pertumbuhan ragi Candida yang mendadak dan cepat. Dua macam reaksi ini cenderung terjadi karena meningkatnya hormon kortisol. Ini adalah alasan yang rasional mengapa stres dapat menyebabkan infeksi Candida.

Kortisol bersifat adiktif (menimbulkan ketagihan) bagi tubuh. Ini meningkatkan kandungan gula darah dan mengurangi inflamasi. Ada beberapa studi yang menunjukkan bahwa tubuh dapat menjadi kecanduan kortisol dan bereaksi untuk menjaga agar kandungannya tetap tinggi. Ada beberapa nutrisi sederhana yang membantu menurunkan kadar kortisol dan kembali normal dengan menimbulkan sinyal kepada sistem saraf untuk bersantai.

Dapatkan 7 botol @ 6 ml Melia Propolis hanya dengan Rp 635,000. Anda akan langsung menjadi member MLM PT Melia Sehat Sejahtera dengan peluang penghasilan hingga Rp 850,000 sehari…!!! Unduh formulir pemesanannya di SINI, lalu kirimkan e-mail order ANDA ke denggleng@yahoo.com, segera !

 

FacebookShare

constipation1Sembelit dapat disebabkan oleh ragi candidaSebaliknya, sembelit juga dapat menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan ragi candida. Jika seseorang tidak memiliki candida dan kemudian mengalami sembelit untuk alasan apapun, menandakan bahwa ragi candida mungkin mulai tumbuh di dalam saluran pencernaannya. Saluran pencernaan yang sembelit akan bergerak lambat dan bereaksi yang sangat alkalin (basa). Lingkungan alkalin sangat disukai ragi candida untuk tumbuh dan berkembang. Semakin alkalin (basa, pH tinggi) reaksi dalam saluran pencernaan semakin “bahagia” candida  hidup dan tumbuh di dalamnya.

Tidak peduli apa pun penyebabnya,  sembelit untuk alasan apapun dapat  menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan ragi candida.

 

Dapatkan 7 botol @ 6 ml Melia Propolis hanya dengan Rp 635,000. Anda akan langsung menjadi member MLM PT Melia Sehat Sejahtera dengan peluang penghasilan hingga Rp 850,000 sehari…!!! Unduh formulir pemesanannya di SINI, lalu kirimkan e-mail order ANDA ke denggleng@yahoo.com, segera !

FacebookShare

PERNAHKAH kita memperhatikan menu berbuka puasa seperti ini? Segunung nasi dengan berbagai lauk sumber protein dan lemak hewani? Nah bayangkan kerja saluran pencernakan kita. Kondisi kosong dicecar dengan makanan seperti ini? Apa lagi jika sebelumnya kita minun minuman segar yang dingin. Betapa berat dan kerasnya kerja pecernakan kita mengatasi lemak-lemak yang beku karena diguyur minuman dingin ber-es…:-). Jika demikian, maka berpuasa bukannya menyehatkan, justru dapat menimbulkan masalah kesehatan…!

Lalu bagaimana, jika kondisi lingkungan kita memang seperti itu? Ketika banyak tersaji penganan (jajanan) pembuka puasa di mana-mana? Satu satunya jalan ya menghilangkan kebiasaan itu. Kita ganti dengan kebiasaan sehat yaitu mengonsumsi suplemen kesehatan yang tidak mengenyangkan tetapi menyehatkan dan menyegarkan badan.

Adakah suplemen seperti itu? Kabar baiknya, ADA… Saudara sekalian!  Ada, bahkan untuk yang produksudah lebih dari 11 tahun beredar resmi di Indonesia. Ada dua macam suplemen yang sinergis kerjanya dalam  membantu penyembuhan berbagai macam penyakit dan meningkatkan metabolisme tubuh. Kita perlu ingat bahwa kondisisaluran pencernaan ketika  berpuasa itu adalah kondisi yang paling efektif untuk kinerja kedua macam suplemen ini. Apakah itu? Tak lain dan tak bukan kedua produk itu adalah Melia Propolis dan Melia Biyang yang hanya dipasarkan dengan sistem MLM oleh PT Melia Sehat Sejahtera.

 

Propolis-btlMelia Propolis sebagai Antibiotik dan Antioksidan alami yang kuat, mampu membasuh dan membersihkan rongga mulut dan saluran pencernakan atas dari mikroorganisme penyebab aroma tak sedap pada napas orang berpuasa. Ketika ditelan masuk ke saluran pencernakan, Melia Propolis akan menjadi sumber vitamin, asam amino dan mineral yang jauh lebih bermanfaat dibandingkan jika kita mengonsumsi  ‘minuman-minuman’ penyegar penambah energi. Melia Propolis dikemas dalam botol berisi 6 ml larutan propolis murni 15% yang setara dengan 120 tetes.

biyang-btlMelia Biyang adalah ekstrak kolustrum (susu awal) sapi dengan kegunaan sebagai perangsang kelenjar PITUITARY. Kelenjar ini dijuluki sebagai ‘King of Glands’ (Raja kelenjar), karena menghasilkan hormon pertumbuhan manusia (HGH) yang fungsinya mengatur kelenjar-kelenjar lain seperti thyroid dan Adrenalin untuk bekerja lebih baik menghasilkan hormon masing-masing. Jika produksi hormon-hormon dapat lebih baik, akan berarti metabolisme dalam tubuh menjadi lebih baik. Melia Biyang dikemas dalam botol 15 ml yang setara dengan 150 semprot.

TIPS KONSUMSI ketika BERPUASA RAMADAN:

Mengawali buka puasa: 5 tetes Melia Propolis dalam 1/2 gelas air putih, dikumur-kumurkan lalu ditelan. Mengakhiri makan sahur: sama seperti ketika mengawali buka puasa, 5 tetes Melia Propolis dalam 1/2 gelas air dikumur-kumur lalu ditelan.  Jadi seorang yang sedang berpuasa Ramadan (jika dianggap sebulan = 30 hari)  memerlukan 10 tetes x 30 = 300 tetes Melia Propolis dibulakan menjadi 3 botol. Satu paket Melia Propolis berisi 7 botol, berarti dapat digunakan oleh dua orang selama bulan Ramadan.

Bagi yang berusia lebih dari 30 tahun dapat dilengkapi dengan mengonsumsi Melia BiyangMelia Biyang dikonsumsi dengan cara disemprotkan ke bawah lidah dua kali sehari, 1) menjelang tidur malam dan 2) sesaat setelah bangun tidur. Dosis setiap kali konsumsi sebagai berikut: 1) umur 30 – 40 tahun 3 semprot, 2) umur 40 – 60 tahun 4 semprot dan 3) usia 60 tahun atau lebih 5 semprot. Jadi jika diambil contoh pasangan suami isteri yang berusia 40 – 60 diperlukan Melia Biyang 16 semprot sehari, atau 480 semprot selama Bulan Ramadan. Karena satu paket Melia Biyang berisi 4 botol, maka kebutuhan Melia Biyangselama bulan Ramadan adalah 1 paket (1 botol = 150 semprot).

Harga kedua macam suplemen itu sama, Rp 605,000 per paket (sudah termasuk pajak penjualan 10%). Untuk konsumen perdana, perlu ditambah Rp 30,000 untuk pendaftaran sebagai member PT Melia Sehat Sejahtera. Kenapa perlu dijadikan member? Karena peluang bisnisnya yang begitu besar. Dari modal awal sepasang Suplemen Rp 1,210,000 + pendaftaran Rp 30,000, memiliki peluang penghasilan dari Bonus Perkembangan jaringan hingga 2 x Rp 850,000 SEHARI = Rp 1,700,000 SEHARI. Peluang mendapatkan Bonus Sponsor (mengajak orang lain berbuat yang sama, membeli sepasang suplemen dan mendaftar sebagai member) sebesar Rp 200,000 per MEMBER yang bergabung. Jika Anda berhasil mengajak 10 orang member baru selama puasa Ramadan, berarti akan memberi penghasilan Bonus Sponsor Rp 2,000,000 selama Ramadan.

Lumayan bukan, untuk tambah-tambah biaya MUDIK dan BERLEBARAN, dengan bonus badan sehat, segar, vit dan berpuasa yang bebas dari napas tak sedap. Tambah PEDE lah….:-)

Mari silakan yang berminat, kirimkan pesanan Anda via e-mail ke denggleng@yahoo.com akan kami beritahu cara memesannya. Kami tunggu pesanan Anda. Selamat menikmati Bulan Ramadan dengan melaksanakan ibadah puasa penuh kesegaran dan berkah kesehatan serta penghasilan….

 

Mari Saudara, manfaatkan peluang ini. Dapatkan kesehatan prima dan peluang bisnis yang sangat luar biasa. Modal tak sampai dua juta rupiah, penghasilan HARIAN hingga jutaan rupiah…. klik segera di SINI.

FacebookShare

kdpbizBanORANG BIJAK  mengajarkan, “SEHAT itu hemat tetapi kesehatan itu mahal”. Apalagi jik kita sudah kehilangan sebagian dari padanya. Oleh karena itu, tindakan PENCEGAHAN penyakit jauh lebih hemat dibandingkan mengobatinya setelah berjangkit. PT Melia Sehat Sejahtera menyediakan dua macam makanan kesehatan (Herbal) yang sangat luar biasa. Khasiat dan kegunaannya sudah banyak terbukti. Beberapa diantaranya sudah dipostingkan di weblog ini pada page KESAKSIAN.

Dua macam produk itu dipasarkan hanya dengan sistem Network Marketing (MLM) dengan format Binary. Harga keduanya sama, Rp 605,000 per paket (sudah termasuk pajak 10%). Produk pertama adalah MELIA PROPOLIS dan yang kedua MELIA BIYANG. MELIA PROPOLIS adalah produk lebah multi guna untuk membantu penyembuhan dan pencegahan berbagai macam penyakit. MELIA BIYANG adalah stimulator (perangsang) kinerja kelenjar PITUITARY untuk memproduksi Human Growth Hormones (Hormon Pertumbuhan Manusia) lebih banyak lagi, sehingga mampu membangun dan memelihara sistem kekebalan tubuh dan membuat Anda awet muda.

Mengkonsumsi keduanya secara teratur (untuk yang sudah berumur 30 tahun) berarti melakukan tindakan pencegahan penyakit dan pemeliharaan kesehatan yang prima. Berapa kebutuhan kita mengkonsumsi kedua produk luar biasa itu? Berikut adalah tabel perhitungannya untuk Anda yang berusia > 30 tahun. Secara ringkas jika Anda berumur kurang dari 30 tahun, hanya perlu biaya kurang dari Rp 11,000 sehari dan untuk yang berusia > 60 tahun hanya perlu kurang dari Rp 21,000 setiap hari.

Biaya Kesehatan Anda dengan Produk PT MSS

Nah, sekarang apa untungnya jika Anda mengonsumsinya secara teratur? Sudah pasti kesehatan prima dapat Anda nikmati. Selain itu hasil khasiatnya tentu INGIN Anda ceritakan ke sanak saudara dan handaitaulan. Jika orang yang Anda beritahu tertarik dan bergabung, maka Anda mempunyai peluang menjalankan bisnisnya, baik sangat aktif, maupun sekedar menjalankannya sebagai sambilan. Maksudnya sambil membantu orang lain. Mau tahu buktinya? Silakan klik : http://www.kdpbiz.com/?page_id=114 untuk mencermati Bonus Plan yang sangat mungkin Anda wujudkan berpindah ke BUKU REKENING BANK Anda…

 

Mari Saudara, manfaatkan peluang ini. Dapatkan kesehatan prima dan peluang bisnis yang sangat luar biasa. Modal tak sampai dua juta rupiah, penghasilan HARIAN hingga jutaan rupiah…. klik segera di SINI.

 

Salam Sukses dari Bogor,

hasil bisnis 1.5 tahun

Ir Nuraeni & Ir Winarso D Widodo, MS, PhD

FacebookShare
DAHSYAT…!!!
Bagaimana menjadikan MLM sebagai mesin uang dengan bonus HARIAN.... Tanpa TUP POIN, tidak pakai peringkat-2an.... tidak juga janji reward muluk-muluk, cukup dengan SATU MACAM PENGHASILAN yaitu BONUS, Uang dan Produk....
Arsip
Kategori
MSS Bogor Group
DAFTAR SEKARANG
NETWORK TRAINING CENTER
Anda ingin berlatih dan belajar networking PT MSS, silakan datang di:
Jl. Johar I Blok C2 No. 23, Taman Pagelaran, Ciomas Bogor 16610
e-Mail: mssdramaga@yahoo.com
mssdramaga@gmail.com

Contact Persons:
Dr Ir Winarso D Widodo, MS (wd_widodo@yahoo.com)
Ir Nuraeni (mssdramaga@yahoo.com)
UNDANGAN
PT. MSS ingin menginformasikan cara hidup sehat di dunia yang semakin tidak sehat dengan polusi, radiasi, jutaan virus, bakteri, jamur dan zat-zat racun lainnya yang siap menyerang Anda.

Oleh karena itu kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk hadir di: Bogor Dramaga Agency, Jl. Johar I Blok C2 No. 23, Taman Pagelaran - Bogor. Setiap hari kerja jam 08.00 - 17.00.


Salam Sehat Sejahtera,
Ir Nuraeni
mssdramaga@yahoo.com; mssdramaga@gmail.com
Hosting & Domain Kompetitif
alt=
Download e-Book Bisnis Online
Download eBook CafeBisnis
Cafe Bisnis, Pembelajaran Online
Bisnis Online
free counters

sejak 19 April 2011

Bisnis Anti Macet
Bisnis Online