Archive for the ‘sehat sejahtera’ Category

Evaluation of mucoadhesive gels with propolis (EPP-AF) in preclinical treatment of candidiasis vulvovaginal infection.

Berretta AA, de Castro PA, Cavalheiro AH, Fortes VS, Bom VP, Nascimento AP, Marquele-Oliveira F, Pedrazzi V, Ramalho LN, Goldman GH. (NVA Research Update E-Newsletter October 2013)

Sariawan Vagina1Vulvovaginal candidiasis is the second cause of vaginal infection in the USA. Clinical treatment of C. albicans infections is routinely performed with polyenes and azole derivatives. However, these drugs are responsible for undesirable side effects and toxicity. In addition, C. albicans azole and echinocandin resistance has been described. Propolis is a bee product traditionally used due to its antimicrobial, anti-inflammatory, and other properties. Therefore, the present work aimed to evaluate different propolis presentations in order to evaluate their in vitro and in vivo efficacy. The methodologies involved antifungal evaluation, chemical analysis, and the effects of the rheological and mucoadhesive properties of propolis based gels. The obtained results demonstrated the fungicide action of propolis extracts against all three morphotypes (yeast, pseudohyphae, and hyphae) studied. The highest level of fungal cytotoxicity was reached at 6-8 hours of propolis cell incubation. Among the based gel formulations developed, the rheological and mucoadhesive results suggest that propolis based carbopol (CP1%) and chitosan gels were the most pseudoplastic ones. CP1% was the most mucoadhesive preparation, and all of them presented low thixotropy. Results of in vivo efficacy demonstrated that propolis based gels present antifungal action similar to clotrimazole cream, suggesting that future clinical studies should be performed.

[Evaluasi gel mukoadhesif dengan propolis (EPP-AF) dalam pengobatan praklinis infeksi vulvovaginal candidiasis

Infeksi Ragi Candida albicans penyebab sariawan kewanitaanKandidiasis vulvovaginal adalah penyebab infeksi vagina kedua terpenting di Amerika Serikat. Pengobatan klinis dari infeksi Candida albicans secara rutin dilakukan dengan poliena dan turunannya, azole. Namun, obat ini bertanggung jawab untuk efek samping yang tidak diinginkan dan toksisitas yang tinggi. Selain itu, telah dibuktikan dan dijelaskan berkembangnya C. albicans yang resisten terhadap azole dan echinocandin. Propolis adalah produk lebah yang secara tradisional digunakan sebagai antimikroba, anti-inflamasi, dan khasiat-khasiat lainnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi presentasi propolis yang berbeda dalam rangka untuk mengevaluasi kemanjurannya secara in vitro dan in vivo. Metodologi yang digunakan meliputi evaluasi antijamur, analisis kimia, dan efek dari sifat reologi dengan memformulakannya sebagai gel mukoadhesif yang ditambahkan propolis. Hasil yang diperoleh menunjukkan terdapat aktivitas fungisida dari ekstrak propolis terhadap ketiga morphotype jamur (ragi, pseudohyphae, dan hifa). Level tertinggi dari sitotoksisitas jamur dicapai pada 6-8 jam inkubasi sel propolis. Di antara formulasi berbasis gel yang diujikan , hasil rheologi dan mukoadhesif menunjukkan bahwa propolis berbasis karbopol (CP1%) dan gel kitosan adalah  yang paling pseudoplastic. CP1% adalah persiapan yang paling mukoadhesif, dan mereka semua menunjukkan thixotropy rendah. Hasil pengujian in vivo menunjukkan bahwa propolis berbasis gel menunjukkan aktivitas antijamur yang mirip dengan krim clotrimazole, sehingga perlu dilakukan studi klinis]

Propolis produk PT Melia Sehat Sejahtera dikemas dalam botol ukuran 6ml. Harga eceran Rp 110,000 per botol. Harga untuk menjadi member atau harga member Rp 605,000 per 7 botol (sudah termasuk pajak penjualan 10%). Menjadi member jauh lebih murah dan menguntungkan. Peluang penghasilan member dengan 1 paket Melia Propolis: Rp 850,000 per hari. Unduh formulir ordernya DI SINI sekarang juga untuk memesan Melia PROPOLIS via e-mail.

Tidak mau seperti ini bukan?

imagesCAL7B732 For less than Rp 700,000 you can protect one of your most vital organs… you are worth it

FacebookShare

Oleh Ki Denggleng Pagelaran, 29 April 2003

Pertanyaan, pasendhon dari Suga Derida

Salam, 1. Ki Hadjar Dewantara : suwung-awang-uwung.Segala sesuatu bermula  dari “tiada” dan “ketiadaan”. 2. Teori evolusi itu kan sekadar konsep yang  digagas oleh manusia yang terikat waktu dan kenisbian. Lha…manusia yang  serba terbatas melihat “ketakberhinggan” semesta…..gagu ta. 3. Evolusi itu  “ada”, Revolusi juga ‘ada”, Kun fayakun juga “ada”. terimakasih.

—————-

KDP:

Terimakasih kembali.

khdKi Hadjar Dewantara, barangkali mewakili pemahaman Jawa  dalam hal asal-usul manusia atau asal-usul alam semesta. Memang pada mulanya sebutan untuk Hyang Maha Pencipta bagi faham Jawa adalah Hyang Taya (dalam bahasa Jawa  sekarang dipanjangkan menjadi Hyang Tan Kinayangapa, Hyang Tidak Dapat Diperapakan). Faham selanjutnya menyatakan bahwa Hyang Taya melakukan Titah, yang bermakna kalimat, kata-kata, ujaran atau kalam atau qalam azali.

Dari Titah itulah ada yang Tumitah (dikatakan, diujarkan, di-kalam-kan, mengandung qalam), oleh karena itu, ‘kun fayaa kun’ sebagai asal-usul kejadian, tidak bertentangan dengan faham titah Hyang Taya itu. Jadi segala yang ada dan dianggap ada, bagi faham Jawa dengan Hyang Taya-nya adalah TITAH itu sendiri, dan adanya karena dititahkan atau TUMITAH. (sayang kini seselan ‘um’ ini nyaris hilang baik dalam bahasa Jawa maupun Indonesia, meskipun agak berbeda, namun keberadaannya sebetulnya mampu mencakup pengertian yang sesuai dengan budaya pemakai bahasa).

Terjadi pergeseran makna ketika segala titah ini dipersamakan dengan the creatures, ciptaan. Sebab, dalam khasanah Jawa, cipta itu adanya karena rasa. Rasa dibangun oleh karsa. Kedudukannya memang paling tinggi dalam khasanah kemanusiaan Cipta – Rasa – Karsa. Namun cipta ada adalah karena setelah manusia ada lengkap dengan daya persepsi dan apresiasi kejiwaan ketika mencitra keberadaannya di antara segala ciptaan terhadap yang mengadakannya. Tetapi apa boleh buat, bahasa memang tidak lagi menjadi kekuatan penyampaian idea mutlak bagi sesuatu bangsa sekarang ini. Apalagi pada jaman yang sudah demikian canggih teknologi dan sarana berkomunikasinya.

Yang jelas bahwa Hyang Taya itu sudah hampir tidak dipahami lagi oleh generasi Nusantara sekarang. Tidak hanya itu bahkan Hyang Manon (dari asal kata ‘ton’ yang bermakna lihat) yang arti esensialnya adalah Hyang Melihat (dengan sendirinya), pun tidak dipahami lagi. Melihat yang merupakan sifat azali dan menjadi Maha Melihat, dahulunya mampu menjadi pembatas aktivitas ‘pengaku’-nya. Betapapun ‘titah’ selalu dalam Penglihatan Hyang Manon. Dari itu lebih maju lagi menjadi sesebutan Hyang Widhi. Adalah, Dia yang Maha Memberi Ijin, dan ijin itu adalah perkenan atau kemauanNya.

Nah demikianlah kira-kira pendugaan saya tentang Ki Hadjar Dewantara (Soewardi Soerjaningrat), dalam memikirkan keberadaannya. Dan olehnya itu, kun-faya-kun, tetaplah berlaku sepanjang memahami bahwa segala sesuatu ‘titah’ itu mengada karena dititahkan ada dari tiada. Tetapi proses selanjutnya, barang kali terletak pada penggal ungkapan ‘faya’ yang rupanya dapat dimaknai sebagai suatu proses yang bila dihitung dengan ‘waktu’ (ini juga suatu titah) yang berlaku pada manusia dan sekaligus menjadi ‘pembatas’ semena-mena keberadaan manusia secara individu, menjadi sangat panjang.

Nah, dalam perjalanan ‘titah’ yang bernama waktu (Hyang Kala, yang bukan berarti bahwa Kala itu Taya, melainkan dengan Kala, Hyang Taya mengelola jagad seisinya), manusia secara individu maupun agregat ‘MANUSIA’ berada di dalamnya. Secara individu, kehidupan manusia hanyalah sepersekian saat saja dari waktu-Nya Hyang Taya yang dianugerahkan kepada keberadaan jagad, juga MANUSIA sebagai nama titah yang memiliki keistimewaan mampu mengingat, belajar, berpikir dan lebih penting lagi mampu mengekspresikan ulang baik dengan perbuatan maupun bahasa atas hasil-hasil perkembangan dan pengalamannya itu, dipercaya baru muncul di muka bumi sekitar 150.000 tahun yang lalu (kalau tak salah).

Masa lampau tetap sebagai misteri, karena manusia tidak akan mampu mengarungi balik perjalanan Kala hanya atau baru terjadi dalam cerita-cerita fiksi-ilmiah yang kadang-kadang difilemkan, sekedar menjadi hiburan. Tetapi haruskah manusia berhenti memikirkan masa lalu, masa kemunculan nenek moyangnya? Rasa-rasanya kok tidak, kecuali manusia dan MANUSIA ingin berhenti keberadaannya saat ini juga.

Terimakasih lagi.

Ketawang Ibu Prtiwi (Karya Ki Nartosabdho):

Ibu Prtiwi paring boga lan sandhang kang murakabi,
paring rejeki manungsa kang bekti,
Sih sutresna mring sesami,
Ibu Prtiwi kang adhil luhuring budi.
Ayo sungkem mring Ibu Prtiwi

FacebookShare

perahu-bercadik-borobudurMaka sangatlah vital dan mendesak, bila kita ingin mengidentifikasi realitas diri kita, hidup kita, di masa kini (juga dulu dan nanti), mesti lebih dulu “membersihkan” bekas-bekas yang keras dan dalam dari pendekatandarat kita. Tentu saja hal ini sangatlah sulit, mengingat kultur kerajaan konsentris kini begitu meresap dan (dianggap) menjadi jati diri kita sebenarnya, termasuk dalam permainan politik mutakhir atau gerak ekonomi kita saat ini.

Namun hal itu mungkin bisa dimulai dari usaha mengidentifikasi pola rasial – seperti tersebut di halaman awal – juga pola relasi kultural yang terbangun sejak bercampurnya bangsa dan budaya Mongoloid-Austronesia dengan Australo-Melanesia. Dilihat dari akarnya, bangsa Indonesia adalah manusia yang berkulit gelap, sebagaimana kita temukan di pribumi Australia hingga Nugini dan kepulauan Fiji. Bercampur dengan pendatang dari Formosa yang melintas Selat Luzon, melahirkan suku-suku bangsa yang berkulit terang (Manado dan Maluku Utara) berhimpitan dekat bangsa berkulit gelap di Maluku Selatan dan Papua.

Pencampuran itu mengental bila kita bergerak ke Selatan. Dengan sisa-sisa Melanesia pada kulit agak gelap dan rambut keritingnya pada suku-suku bangsa di Timur Nusatenggara (bisa jadi Gajahmada berasal dari wilayah ini dilihat dari profil patungnya), hingga sampai pada Bali, Jawa dan Sumatera yang mulai coklat terang (sawo matang), yang boleh jadi juga karena percampuran secara genetik dengan albino Arya-Dravida. Maka lihatlah sebagian orang Jawa (orang kraton khususnya) yang relatif berkulit gelap, rambut lurus, dan hidung agak membengkok.

Tapi dari “hidung yang agak bengkok” inilah pergaulan atau interrelasi budaya nusantara yang sebelumnya terjadi secara dinamis, egaliter, terbuka, dan cair (sebagaimana karakter bangsa pesisir/pelaut) berubah menjadi statis, tertutup, feodal, dan kaku, sebagaimana tradisi kerajaan konsentris, seperti Demak dan Mataram. Usaha untuk melawan kecenderungan kultural itu, yang dilakukan oleh Mpu Sindok, dengan memindahkan pusat kerajaan ke kota pesisir Surabaya, dan mengangkat Gajah Mada, yang bisa jadi pelaut sejati asal Flores, cukup sukses pada awalnya, tetapi tenggelam juga akhirnya dengan datangnya agama daratan, Islam.

Agama baru ini datang dibawa oleh para mubalig-pengembara berasal dari kultur daratan (India, Arab dan Cina), lebih bisa berkompromi dengan tradisi Hindu/Buddha yang juga merupakan agama-darat. Bukan dengan agama para pelaut yang dewa-dewa dan tuhannya ada di lautan. Maka pergaulan budaya pun kembali memadat dan ketat, dalam regulasi semacam syariah, adat, dan sebagainya.

Kepadatan, keketatan, ketertutupan, ekskluisivitas-feodal, dan sebagainya inilah yang mesti kita coba lucuti untuk mengetahui dan memahami bagaimana budaya bangsa kita sebenarnya berakar dari dunia maritim. Dunia yang telah membawa kita ke ujung dunia terjauh, bahkan mungkin mencapai Amerika, sebelum Hsun-Fu diutus Shi-Huang-Ti menjelajah ke sana, apalagi Columbus yang seperti anak kemarin sore.

Sebagai gugusan puluhan ribu pulau, ratusan sub-etnik dan bahasa, kita adalah bangsa yang menggunakan laut untuk berkumunikasi, berdagang, berakulturasi, berproduksi dan berkreasi. Semua terjadi dalam kesetaraan, keterbukaan, dan kesediaan menerima yang asing (the others) secara ikhlas. Suatu mekanisme budaya yang membuat suku-suku bangsa di kepulauan ini terus berkembang, memperkaya diri, tanpa ada dominasi (apalagi nafsu kolonisasi), dan pada akhirnya mempertahankan diri mereka sebagai sebuah kesatuan, bhineka tunggal ika, hingga detik ini.

Pertanyaannya: dapatkah, lebih tepat mungkinkah, kita membalik kembali jalan sejarah kita? Dengan apa? Atau mungkin lebih pragmatis, perlukah? Di dalam peradaban mutakhir yang dikuasai oleh kultur kontinental (Eropa dan Cina, misalnya), adakah budaya bahari masih memiliki ruang untuk hidup? Apalagi dengan kecenderungan mutakhir, ketika laut dikuantifikasi menjadi jarak (bukan sebagai sesuatu yang hidup) yang kemudian ditaklukkan oleh teknologi (transportasi dan komunikasi, misalnya), adakah kebaharian masih perlu dipertahankan?

Lebih jauh lagi, beberapa bangsa sudah melihat darat dan laut bukan lagi masa depan bangsa, karena keduanya kini hanya menjadi restan atau limbah dari kerakusan teknologi. Kini mereka  berpaling ke wilayah lain: udara. Daerah sans frontiere kata Gene Roddenberry dalam Star Trek. Aerah tak bertuan dan belum ada peradaban apa pun yang membentuknya. Ke sanakah orientasi diri kita kini harus menuju?

Sekalian pemikir di negeri ini harus menjawabnya.

Jakarta, 25 Oktober 2009

Ide untuk Pengantar Diskusi “Budaya Bangsa Bahari”, Hotel Sultan Jakarta, 26 Oktober 2009.

FacebookShare

(Hanuman: tokoh idola atau penghianat?)

Catatan KDP: Saya sangat tercenung dan terkejut membaca bagian artikel Mas Radar Panca Dahana tentang “Tipuan Ajisaka” ini. Keterkejutan saya terletak pada figur tokoh epos Ramayana: HANUMAN. Ya, dalam pewayangan Ramayana versi Jawa, Hanuman (Anoman) sudah menjadi idola. Bahkan dimitologikan sebagai “Anak derivatif Hyang Bayu, dengan ciri berkain POLENG dan menggenggam kuku PANCANAKA, ketajaman yang LIMA. Tapi apakah benar dugaan Mas Radar, bahwa sebagai raja monyet yang maha sakti, Hanuman ternyata hanyalah sebagai tokoh penghianat bangsa Monyet yang membantu raja Arya Ramawijaya menaklukkan Rahwana (raja Sri Alengka)? Apakah benar rombongan monyet Gua Kiskendha itu sebenarnya satu rumpun bangsa dengan bangsa raksasa Alengka, sebagai lambang bangsa Dravida-Indonesia yang akan ditaklukkan oleh bangsa Arya? Silakan direnungkan….

Yang jelas perahu atau kapal bercadik yang tergambar di relief dinding Borobudur menyiratkan bahwa itu adalah kapal bangsa Indonesia terutama di pesisir selatan Jawa dan juga ciri khas kapal bangsa laut seperti suku Bajo. Karena ciri bercadik itulah yang memungkinkan kapal-kapal Nusantara mampu mengarungi samudera Pasifik (menuju kepulauan Fiji dan Selandia baru) dan samudera Hindia menuju Madagaskar dan bahkan mencapai pantai Afika Barat dengan membawa perbekalan yang hingga sekarang dapat dilacak buktinya berupa: AYAM, PISANG RAJA dan PISANG TANDUK, dan juga tanaman TALAS-TALASAN.

TIPUAN AJISAKA

perahu-bercadik-borobudurMaka, dari fakta yang diringkas sebelumnya (Indonesia Maritim #1 – #3), bisa kita mendapat pemahaman bagaimana kebudayaan Indonesia sebenarnya telah dibangun dengan cara yang sangat mengagumkan, dari kehidupan dan pengetahuannya tentang kelautan. Bukan daratan. Dan itu tidak hanya membuktikan betapa sebenarnya jati diri dan identitas muasal kita adalah pelaut sejati, bangsa laut yang besar dan disegani di masa purba (pra-sejarah), yang berinteraksi secara intens dengan peradaban-peradaban besar dan purba di Mesopotamia, Babylonia, Indus hingga Cina, tetapi juga serentak itu ia membantah keterangan sejarah yang kini taken for granted bagi kita, bahkan menjadi mitos.

Keterangan di atas membalik uraian sejarah formal bahwa Indonesia dibentuk oleh pendatang-pendatang dari sungai Mekong pada 3000 SM, atau kemudian diadabkan oleh bangsa India, disusul Arab, Cina, dan Eropa. Kenyataannya kita adalah bangsa yang sudah berdagang jauh sebelum Yesus atau Nabi Muhammad lahir. Tidak mengherankan, bila banyak bukti baru mengatakan Islam datang ke Indonesia bukan lagi pada awal abad 11 lewat para mubalig Cina dan Gujarat, tetapi sejak masa Nabi masih hidup. Bisa jadi begitu pula dengan agama Kristen, Buddha bahkan Hindu. [Atau mungkin justru substansi agama-agama itu diajarkan dan disebarkan oleh pelaut-pelaut Nusantara, jauh sebelum ditulisnya kitab-kitab dari bangsa Ibrani? Lewat guru-guru spiritual Nusantara yang kemudian nama-namanya diabadikan dan disucikan sebagai nama-nama dewa dan malaikat? - KDP]

Figur Timur Tengah atau Afrika?Kita tahu kini, sejak bangsa Arya mulai menempati lereng Himalaya dan sungai Gangga pada 1500 SM, mereka membutuhkan waktu 1,000 tahun lagi (500 SM) untuk sampai wilayah Selatan India, di mana ternyata sudah merupakan perkampungan orang Indonesia yang semarak di sana. Di masa itulah dipercaya, kitab-kitab utama Buddha lahir, kitab Vedha menyebar, dan peradaban Yunani melahirkan filosof-filosof yang tajam pikirannya.

Maka adalah hal yang sangat masuk akal, bahwa orang Indonesia (Austronesia) yang bercampur dengan Dravida sebenarnya adalah lawan dari penjajah Arya yang tengah mencoba melebarkan koloninya hingga Srilangka. Di sinilah, saya kira, mitologi Arya, Ramayana mendapatkan konteks historisnya. Rama sebagai raja Arya memerangi Rahwana, raja maha sakti Dravida. Dengan kelicinannya Rama menggunakan ‘rakyat setempat yang takluk’ sebagai “pasukan para” di garda depan. Rakyat yang berkulit gelap yang dipersonafikasi melalui monyet-monyet dan raja-raja monyet yang ditaklukkannya.

Babak Ramayana yang mengisahkan bagaimana Rama membangun jembatan monyet untuk menyerbu Rahwana, raja Sri Alengka (Srilangka), mengindikasikan betapa miskinnya pengetahuan Rama tentang laut, sehingga ia meminta bantuan bangsa Dravida-Indonesia yang takluk (yang digambarkan sebagai monyet) itu. Wajarlah jika raja monyet paling sakti yang menghamba pada Rama, Hanuman, di-“anugerahi” posisi khas: diputihkan kulit(dan bulu)nya, sebagaimana kulit bangsa Arya. Padahal sesungguhnya Hanuman adalah pengkhianat bagi bangsanya sendiri.

Penaklukan besar yang teriwayatkan dalam sastra indah ini, memberi kita beberapa proposisi interogatif yang menantang: tidakkah kolonialis Arya di Dravida yang datang ke pulau Sumatera dan Jawa, memanfaatkan teknologi pelayaran nusantara, untuk menaklukkan penguasa-penguasa pribumi di kepulauan itu? Tidakkah mitologi Ajisaka bagi masyarakat Jawa hanyalah sebuah legitimasi historis yang mitis, untuk penaklukan yang berpola sama dengan Rama? Ajisaka menaklukkan Dewata Cengkar (penguasa pribumi yang digambarkan sebagai rasaksa, sebagaimana rahwana), melalui senjata sederhana, kain pengikat kepala, sehingga membuat Dewata Cengkar tersingkir perlahan dan akhirnya tercebur ke laut, menjadi dhemit di selat Banyuwangi?

Betapa mitologi ini sudah menipu kita berabad-abad? Seakan orang Jawa ontologinya berujung pada pangeran dari India Selatan yang membawa aksara hanacaraka, yang tak lain kembangan dari bahasa suci Arya, Sansekerta? Semacam politik bahasa yang mengerangkeng pola dan daya tutur penuh suasana dari bahasa Jawa? Betapa keliru karenanya, bila orang Jawa, khususnya para raja dan sultannya jika mengidentifikasi diri pada mitologi dan politik bahasa ini. Atau memang kerajaan-kerajaan di Jawa tidak lain adalah pewaris pelanjut dari tradisi kerajaan Arya yang berorientasi kontinental alias daratan?

Dapatkan 7 botol @ 6 ml Melia Propolis hanya dengan Rp 635,000. Anda akan langsung menjadi member MLM PT Melia Sehat Sejahtera dengan peluang penghasilan hingga Rp 850,000 sehari…!!! Unduh formulir pemesanannya diSINI, lalu kirimkan e-mail order ANDA kedenggleng@yahoo.com, segera !

FacebookShare

608px-Musician_BorobudurMaka tak mengherankan bila arkeolog Giorgio Buccelati menemukan wadah berisi cengkih di rumah seorang pedagang di Terqa, Efrat Tengah, yang hidup dalam kurun 1700 SM. Atau arkeolog Inggris, Julian Reade, menemukan sisa-sisa domba atau biri-biri di pulau Timor dari kurun masa hampir sama (1500 SM). Tak ada penjelasan lain yang paling mungkin, selain cengkih yang masa itu hanya tumbuh di kepulauan Maluku dan biri-biri yang hanya dikembang-biakkan di Timur Tengah, dibawa oleh para pelaut Indonesia.
Ptolemeus sendiri menyebut beberapa kali kata baroussai, yang diyakini adalah kota dagang kuno Barus di (pantai Barat) Sumatera Tengah, sebagai penghasil kayu barus (kapur barus, WDW), dan pengekspor bahan-bahan utama pembuatan balsam untuk pengawetan mayat Raja Ramses II pada 5000 SM. Ptolemeus juga yang menyebut sebuah kata yang juga dimuat dalam kitab tertua di Yunani, Periplous tes Erythrais Thalasses (Periplous of the Erythrean Sea) yang ditulis pada pertengahan abad 1 M: Chrisye. Kata yang tidak lain menunjuk pada kepulauan di Indonesia, Sumatera khususnya.
Periplous menyebut kata itu dalam penjabarannya tentang 4 jenis kapal yang ditemukan di India, yang dua diantaranya sangara dan kolandiaphonta dibuktikan keasliannya adalah kapal-kapal penjelajah samudera buatan orang Indonesia. Kata kolandiaphonta pun sebenarnya merupakan suatu transkripsi dari terminologi Cina, kun-lun-po, yang berarti “kapal dari selatan”, nama Cina untuk pulau Sumatera atau Jawa.
perahu-bercadik-borobudurBahkan Bible dalam 1 Raja-raja 9:27-28 mengisahkan tentang Hiram dari 1000 SM yang mengikuti Salomo dan mempersembahkan barang bawaan kapal-kapalnya berupa emas, perak, gading, kera, serta burung merak (1 Raja-raja 10:22). Kata-kata yang notabene, setelah ditelusuri asal-usulnya tidak berasal dari bahasa Timur Tengah, Bahasa India, Sanskerta atau Pali, tetapi dari bahasa Dravida di Tamil Selatan. Suatu daerah yang mengisahkan kejayaan hebat lain dari para pelaut Indonesia.

FacebookShare

STRES DAN KORTISOL BERLEBIHAN

Cortisol_production_PIStres dapat menyebabkan pertumbuhan ragi Candida karena alasan yang sangat rasional. Stres menyebabkan pelepasan hormon khusus, kortisol (cortisol). Kortisol dapat menurunkan kinerja sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan kandungan gula darah. Kandungan gula darah yang tinggi merupakan makanan bagi sel-sel ragi Candida yang memungkinkan mereka tumbuh dengan cepat. Depresi fungsi kekebalan tubuh akan menyebabkan tubuh kekurangan daya tahan terhadap pertumbuhan ragi Candida yang mendadak dan cepat. Dua macam reaksi ini cenderung terjadi karena meningkatnya hormon kortisol. Ini adalah alasan yang rasional mengapa stres dapat menyebabkan infeksi Candida.

Kortisol bersifat adiktif (menimbulkan ketagihan) bagi tubuh. Ini meningkatkan kandungan gula darah dan mengurangi inflamasi. Ada beberapa studi yang menunjukkan bahwa tubuh dapat menjadi kecanduan kortisol dan bereaksi untuk menjaga agar kandungannya tetap tinggi. Ada beberapa nutrisi sederhana yang membantu menurunkan kadar kortisol dan kembali normal dengan menimbulkan sinyal kepada sistem saraf untuk bersantai.

Dapatkan 7 botol @ 6 ml Melia Propolis hanya dengan Rp 635,000. Anda akan langsung menjadi member MLM PT Melia Sehat Sejahtera dengan peluang penghasilan hingga Rp 850,000 sehari…!!! Unduh formulir pemesanannya di SINI, lalu kirimkan e-mail order ANDA ke denggleng@yahoo.com, segera !

 

FacebookShare

Familial gastric cancer: detection of a hereditary cause helps to understand its etiology

By: Ingrid P Vogelaar, Rachel S van der Post, Tanya M  Bisseling,  J Han JM van Krieken,  Marjolijn JL Ligtenberg and Nicoline Hoogerbrugge

Abstract

Worldwide, gastric cancer is one of the most common forms of cancer, with a high morbidity and mortality. Several environmental factors predispose to the development of gastric cancer, such as Helicobacter pylori infection, diet and smoking. Familial clustering of gastric cancer is seen in 10% of cases, and approximately 3% of gastric cancer cases arise in the setting of hereditary diffuse gastric cancer (HDGC). In families with HDGC, gastric cancer presents at relatively young age. Germline mutations in the CDH1 gene are the major cause of HDGC and are identified in approximately 25-50% of families which fulfill strict criteria. Prophylactic gastrectomy is the only option to prevent gastric cancer in individuals with a CDH1 mutation. However, in the majority of families with multiple cases of gastric cancer no germline genetic abnormality can be identified and therefore preventive measures are notavailable, except for general lifestyle advice. Future research should focus on identifying new genetic predisposing factors for all types of familial gastric cancer.

Keywords: Gastric cancer, Genetics, Hereditary diffuse gastric cancer, CDH1, E-cadherin

 

Baca Artikel Original-nya di SINI atau unduh Copy PDF-nya di SINI

pplsPkt409x156Menghadapi penyakit kanker, mencegah adalah cara yang paling tepat dan jauh lebih hemat. Propolis dengan bahan aktifnya CAPE (Caffeic acid phenethyl ester) telah teruji daoat mencegah tumbuhnya sel kanker. Salah satu propolis yang kekuatan antioksidannya mencapai 250 kali antioksidan vitamin C adalah Melia Propolis yang dipasarkan oleh PT Melia Sehat Sejahtera melalui MLM.

Melia Propolis dikemas dalam botol ukuran 6ml. Harga eceran Rp 110,000 per botol. Harga paket untuk menjadi member atau harga paket untuk member Rp 605,000 per 7 botol (harga sudah termasuk pajak penjualan 10%). Menjadi member jauh lebih murah dan menguntungkan. Peluang penghasilan member dengan 1 paket Melia Propolis: Rp 850,000 per hari. Unduh formulir ordernya DI SINI sekarang juga untuk memesan Melia PROPOLIS via e-mail

FacebookShare

Hari ini mulai pukul 14 GMT+9 tadi, anak saya Mahambara Agung Prabawa (Agung) telah diwisuda lulus sarjana TI di Polytechnic University, Kanagawa, Japan.. Alhamdulillaah… _/|\_

AgungWisuda

 

Melia Propolis dikemas dalam botol ukuran 6ml. Harga eceran Rp 110,000 per botol. Harga paket untuk menjadi member atau harga paket untuk member Rp 605,000 per 7 botol (harga sudah termasuk pajak penjualan 10%). Menjadi member jauh lebih murah dan menguntungkan. Peluang penghasilan member dengan 1 paket Melia Propolis: Rp 850,000 per hari. Unduh formulir ordernya DI SINI sekarang juga untuk memesan Melia PROPOLIS via e-mail

FacebookShare

Rubrik Lingkungan dan Kesehatan harian Kompas, Jumat 14 Maret 2014 menurunkan berita dengan judul Penurunan Fungsi Ginjal Ancam Warga Indonesia. Cegah dengan Minum Air Putih dan Hindari Banyak Obat. Alinea pembukanya demikian: JAKARTA, KOMPAS – Berdasarkan data Perhimpunan Nefrologi Idonesia, 20 juta – 30 juta orang Indonesia mengalami penurunan fungsi ginjal. Hal ini disebabkan oleh peningkatan usia, tekanan darah tinggi, dan diabetes melitus. Penyakit ginjal kronis (PGK) juga dipicu oleh kegemukan (obesitas), merokok dan kurang minum air.

Ginjal memiliki menyaring urea dari darah dalam waktu 1 menit yang disebut dengan laju filturasi glomerulus (LFG). Nilai LFG pria dewasa (20 – 29 tahun) sebesar 117 mililiter, sedangkan pada perempuan hanya 91 mililiter. Pada usia 50 -59 tahun LFG pria menjadi 88 mililiter dan pada perempuan turun menjadi hanya 74 mililiter. Jika nilai LFG hanya 60 mililiter selama 3 bulan berturut-turut, itu pertanda adanya gejala PGK. Demikianlah artikel kesehatan harian Kompas itu.

Nah sekarang ada tidak obat atau jamu atau herbal untuk mencegah atau menyembuhkan PGK? Kalau ada tentu obat itu harus dapat mencegah atau menyembuhkan penyebab PGK, yaitu: diabetes, obesitas, dan tekanan darah tinggi. Lalu harus ada pula ‘obat’ yang dapat menunda penuaan dengan jalan menstimulasi produksi hormon pertumbuhan. Untuk itu silakan klik : http://www.kdpbiz.com/?page_id=22

–salam–

 

MLM PT Melia Sehat Sejahtera dengan format dan sistem marketing yang sederhana, hanya dengan dua macam produk, telah banyak memberikan keuntungan kepada para distributornya. Pantas dijadikan BISNIS KELUARGA ANDA. Silakan bergabung…

ANDA ingin MLM yang baik dan benar? Tanpa Tutup Poin? Bonus harian dan bulanan, plus produk automaintenance yang sesungguhnya? Anda dapat bonus otomatis BELANJA ULANG? Mari segera bergabung. Unduh segera formulir order-nya di SINI. Lakukan tahapan ORDER produk dengan mengisi formulir order lalu TRANSFER dana, dan kami akan DELIVER produk sampai ALAMAT ANDA (Ibukota Kecamatan). Cara yang sangat MUDAH, MURAH dengan bonus MELIMPAH-RUAH…..

FacebookShare

Website Perusahaan PT Melia Sehat Sejahtera

Saudara Sekalian, jika banner di atas Anda klik dan pop-up blocker browser Anda tidak aktif, maka Anda akan mendapatkan laman pop-up sebagai berikut:

Rekan Leader dan Member Melia Sehat Sejahtera, Berita Gembira….

  1. Total penghasilan member yang kena pajak adalah jika penghasilan member diatas Rp. 2.025.000,- dari nilai Leadership dan Unilevel. 
  2. Pemotongan Pajak penghasilan member dilakukan bulan berikutnya. 
  3. Para member baru dan member yang penghasilannya dibawah Rp. 2.025.000,- pada bulan sebelumnya, tidak ada pemotongan pajak pada bulan berikutnya. 
  4. Hal ini berlaku efektif mulai tgl 12 Agustus 2013. 
  5. Semoga perubahan ini menambah keyakinan para member bahwa Melia Sehat Sejahtera adalah Perusahaan yang berpihak dan membela kepentingan para member.

 Raih mimpimu dan berkembang bersama Melia Sehat Sejahtera.

 Terima kasih.

 Jakarta, 16 Agustus 2013
Manajemen PT. Melia Sehat Sejahtera

Dapatkan Pelatihan Blogging untuk membuat Blog Bisnis Online... hanya Rp 97,000an

 Artinya, bahwa kami seluruh member PT MSS yang memiliki penghasilan (Bonus) dari bonus harian dan bulanan lebih dari Rp 2,025,000 sebulan pasti membayar PAJAK penghasilan. Menurut desar-desusnya member PT MSS sekarang ini telah mencapai 7 juta orang. Jika 10% member saja yang mencapai penghasilan Rp 3,000,000, maka berapa M sudah pajak penghasilan yang masuk ke kas negara dari para member PT MSS. Bandingkan dengan para penunggak dan manipulator pajak….

Selain itu pada waktu berbelanja ke perusahaan kami juga membayar PPN 10% dari harga Produk. Jika sehari PT MSS berhasil membagikan penghasilan member hingga mencapai Rp 14 M, maka sehari kami para member PT MSS membayar pajak Rp 1,4 M sehari.

Nilai pajak itu barangkali merupakan PPN terbesar yang dibayarkan dari perusahaan macam manapun… Maka dari itu dengan menjadi member PT MSS, berarti Anda membantu pembangunan NEGARA yang kita cintai dan banggakan, Republik Indonesia ini.

 Nah Salam Sukses dari Bogor,

Silakan kontak kami via e-mail di denggleng@yahoo.com atau stokis@probeyoung.com

 

IKLAN:

Penghasilan dari internet bersama CAFEBISNIS.COM, santai Choy....

Klik Kanan untuk UNDUH eBook Online CafeBisnis di SINI

FacebookShare
DAHSYAT…!!!
Bagaimana menjadikan MLM sebagai mesin uang dengan bonus HARIAN.... Tanpa TUP POIN, tidak pakai peringkat-2an.... tidak juga janji reward muluk-muluk, cukup dengan SATU MACAM PENGHASILAN yaitu BONUS, Uang dan Produk....
Arsip
Kategori
MSS Bogor Group
DAFTAR SEKARANG
NETWORK TRAINING CENTER
Anda ingin berlatih dan belajar networking PT MSS, silakan datang di:
Jl. Johar I Blok C2 No. 23, Taman Pagelaran, Ciomas Bogor 16610
e-Mail: mssdramaga@yahoo.com
mssdramaga@gmail.com

Contact Persons:
Dr Ir Winarso D Widodo, MS (wd_widodo@yahoo.com)
Ir Nuraeni (mssdramaga@yahoo.com)
UNDANGAN
PT. MSS ingin menginformasikan cara hidup sehat di dunia yang semakin tidak sehat dengan polusi, radiasi, jutaan virus, bakteri, jamur dan zat-zat racun lainnya yang siap menyerang Anda.

Oleh karena itu kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk hadir di: Bogor Dramaga Agency, Jl. Johar I Blok C2 No. 23, Taman Pagelaran - Bogor. Setiap hari kerja jam 08.00 - 17.00.


Salam Sehat Sejahtera,
Ir Nuraeni
mssdramaga@yahoo.com; mssdramaga@gmail.com
Hosting & Domain Kompetitif
alt=
Download e-Book Bisnis Online
Download eBook CafeBisnis
Cafe Bisnis, Pembelajaran Online
Bisnis Online
free counters

sejak 19 April 2011

Bisnis Anti Macet
Bisnis Online